GANGGUAN SOMATOFORM (SOMATOFORM DISORDERS)
Kata
somatoform ini di ambil dari bahasa Yunani soma,
yang berarti “tubuh”. Dalam gangguan somatoform, orang memiliki simtom fisik
yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik
yang dapat ditemukan penyebabnya. Gangguan somatoform berbeda dengan malingering, atau kepura-puraan simtom
yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang jelas. Gangguan ini juga berbeda
dengan gangguan factitious yaitu
suatu gangguan yang ditandai oleh pemalsuan simtom psikologis atau fisik yang
disengaja tanpa keuntungan yang jelas. Selain itu gangguan ini juga berbeda
pula dengan sindrom Muchausen yaitu
suatu tipe gangguan factitious yang ditandai oleh kepura-puraan mengenai simtom
medis.
Gangguan
somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai
contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan
medis. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan
penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan
pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis
gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis
adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala.
Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau
gangguan buatan.
GEJALA GANGGUAN SOMATOFORM
1.
Pain Disorder
Pada
pain disorder, penderita mengalami rasa sakit yang mengakibatkan ketidakmampuan
secara signifikan;faktor psikologis diduga memainkan peranan penting pada
kemunculan, bertahannya dan tingkat sakit yang dirasakan. Pasien kemungkinan
tidak mampu untuk bekerja dan menjadi tergantung dengan obat pereda rasa sakit.
Rasa nyeri yang timbul dapat berhubungan dengan konflik atau stress atau dapat
pula terjadi agar individu dapat terhindar dari kegiatan yang tidak
menyenangkan dan untuk mendapatkan perhatian dan simpati yang sebelumnya tidak
didapat.
2.
Body Dysmorphic Disorder
Pada
body dysmorphic disorder, individu diliputi dengan bayangan mengenai kekurangan
dalam penampilan fisik mereka, biasanya di bagian wajah, misalnya kerutan di
wajah, rambut pada wajah yang berlebihan, atau bentuk dan ukuran hidung. Wanita
cenderung pula fokus pada bagian kulit, pinggang, dada, dan kaki, sedangkan
pria lebih cenderung memiliki kepercayaan bahwa mereka bertubuh pendek, ukuran
penisnya terlalu kecil atau mereka memiliki terlalu banyak rambut di tubuhnya
(Perugi dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Beberapa individu yang mengalami
gangguan ini secara kompulsif akan menghabiskan berjam-jam setiap harinya untuk
memperhatikan kekurangannya dengan berkaca di cermin. Ada pula yang menghindari
cermin agar tidak diingatkan mengenai kekurangan mereka, atau mengkamuflasekan
kekurangan mereka dengan, misalnya, mengenakan baju yang sangat longgar
(Albertini & Philips daam Davidson, Neale, Kring, 2004).
Beberapa
bahkan mengurung diri di rumah untuk menghindari orang lain melihat kekurangan
yang dibayangkannya. Hal ini sangat mengganggu dan terkadang dapat mengerah
pada bunuh diri; seringnya konsultasi pada dokter bedah plastik dan beberapa
individu yang mengalami hal ini bahkan melakukan operasi sendiri pada tubuhnya.
3.
Hypochondriasis
Hypochondriasis
adalah gangguan somatoform dimana individu diliputi dengan ketakutan memiliki
penyakit yang serius dimana hal ini berlangsung berulang-ulang meskipun dari
kepastian medis menyatakan sebaliknya, bahwa ia baik-baik saja. Gangguan ini
biasanya dimulai pada awal masa remaja dan cenderung terus berlanjut. Individu
yang mengalami hal ini biasanya merupakan konsumen yang seringkali menggunakan
pelayanan kesehatan; bahkan terkadang mereka manganggap dokter mereka tidak
kompeten dan tidak perhatian (Pershing et al., dalam Davidson, Neale, Kring,
2004). Dalam teori disebutkan bahwa mereka bersikap berlebihan pada sensasi
fisik yang umum dan gangguan kecil, seperti detak jantung yang tidak teratur,
berkeringat, batuk yang kadang terjadi, rasa sakit, sakit perut, sebagai bukti
dari kepercayan mereka. Hypochondriasis seringkali muncul bersamaan dengan
gangguan kecemasan dan mood.
4.
Conversion Disorder (Gangguan Konfersi)
Pada
conversion disorder, gejala sensorik dan motorik, seperti hilangnya penglihatan
atau kelumpuhan secara tiba-tiba, menimbulkan penyakit yang berkaitan dengan
rusaknya sistem saraf, padahal organ tubuh dan sistem saraf individu tersebut
baik-baik saja. Aspek psikologis dari gejala conversion ini ditunjukkan dengan
fakta bahwa biasanya gangguan ini muncul secara tiba-tiba dalam situasi yang
tidak menyenangkan. Biasanya hal ini memungkinkan individu untuk menghindari
beberapa aktivitas atau tanggung jawab atau individu sangat ingin mendapatkan
perhatian. Istilah conversion, pada dasarnya berasal dari Freud, dimana
disebutkan bahwa energi dari instink yang di repress dialihkan pada aspek
sensori-motor dan mengganggu fungsi normal. Untuk itu, kecemasan dan konflik
psikologis diyakini dialihkan pada gejala fisik. Gejala konversi biasanya berkembang pada masa
remaja atau awal masa dewasa, dimana biasanya muncul setelah adanya kejadian
yang tidak menyenangkan dalam hidup.
5. Somatization Disorder (Gangguan Somatisasi)
Menurut DSM-IV-TR
kriteria dari somatization disorder adalah memiliki sejarah dari banyak keluhan
fisik selama bertahun-tahun; memiliki 4 gejala nyeri, 2 gejala
gastrointestinal, 1 gejala sexual, dan 1 gejala pseudoneurological;
gejala-gejala yang timbul tidak disebabkan oleh kondisi medis atau berlebihan
dalam memberikan kondisi medis yang dialami. Prevalensi dari somatiation
disorder diperkirakan kurang dari 0.5% dari populasi Amerika, biasanya lebih
sering muncul pada wanita, khususnya wanita African American dan Hispanic
(Escobar et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004) dan pada pasien yang
sedang menjalani pengibatan medis. Prevalensi ini lebih tinggi pada beberapa
negara di Amerika Selatan dan di Puerto Rico (Tomassson, Kent&Coryell dalam
Davidson, Neale, Kring, 2004). Somatizaton disorder biasanya dimulai pada awal
masa dewasa.
Kriterianya
Gangguan Somatoform
Satu
atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
gastrointestinal atau saluran kemih)
a) Salah satu (1)atau (2)
·
Setelah
pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi
medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek
cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
·
Jika
terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan
sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan
menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.
b) Gejala menyebabkan
penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,
pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
c) Durasi gangguan sekurangnya
enam bulan.
d) Gangguan tidak dapat
diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan somatoform,
disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau
gangguan psikotik).
e) Gejala tidak ditimbulkan
dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau
berpura-pura)
Sindrom Koro dan Sindrom Dhat
Sindrom
koro itu
adalah gangguan somatoform yang terkait budaya, ditemukan terutama di Cina,
dimana orang takut bahwa alat genital mereka akan mengerut. Sindrom koro
cenderung hanya muncul sebentar dan melibatkan episode kecemasan takur bahwa
alat genitalnya akan mengerut. Tanda-tanda fisiologis kecemasan yang medekati
proposi panic umu terjadi, mencakup keringat yang berlebihan , tidak dapat
bernafas, dan jantung berdebar-debar.
Sindrom
dhat adalah
gangguan somatoform yang terkait budaya, ditemukan terutama di antara pria Asia
India, yang ditandai oleh ketakutan yang berlebih akan kehilangan air mani.
Pria dengan sindrom ini juga percaya bahwa air mani bercampur dengan urine dan
dikeluarkan saat buang air kecil. Ada keyakinan yang tertersebar luas dalam
budaya India yaitu bahwwa hilangnya air mani merupakan sesuatu yang berbahaya
karena mengurangi energi mental dan fisik tubuh.
PENANGANAN
(TREATMENT) UNTUK GANGGUAN SOMATOFORM
a.
Teori Psikodinamika
Freud
mengembangkan teori pikiran yang mengancam atau yang tidak disadari. Freud
meyakini bahwa ego berfungsi untuk
mengontrol impuls seksual dan agresif yang mengancam atau tidak dapat diterima
yang timbul dari id melalui mekanisme pertahanan diri seperti represi. Control
seperti ini menghambat timbulnya kecemasan yang akan terjadi bila orang
tersebut menjadi sadar akan adanya impuls-impuls itu. Menurut teori Psikodinamika
, simtom histerikal memiliki fungsi yaitu memberikan orang tersebut keuntunga
primer dan sekundar, yaitu Primer yaitu hilangnya kecemasan
yang mendasar yang diperoleh dari berkembangnya simtom-simtom neurotik. Sedangkan
sekunder
yaitu keuntungan sampingan yang dihubungkan dengan gangguan neurotis atau
lainnya, seperti ekspresi simpati, perhatian yang meningkat, dan terbebas dari
tanggung jawab.
b.
Teori Belajar
Teori
psikodinamika dan teori belajar bahwa simtom-simtom dalam gangguan konversi
dapat mengatasi kecemasan. Teoritikus psikodinamika mencari penyebab kecemasan
dalam konflik-konflik yang tidak disadari. Belajar berfokus pada hal-hal yang
secara langsung menguatkan simtom dan peran sekundernya dalam membantu individu
menghindari atau melarikan diri dari situasi yang tidak nyaman atau
membangkitkan kecemasan. Perbedaan dalam pengalaman belajar dapat menjelaskan
bahwa “mengapa secara histories gangguan konversi lebih seringdilaporkan oleh
wanita daripada pria.
c.Teori Behavioral
dari Conversion Disorder
Pandangan
behavioral yang dikemukakan Ullman&Krasner (dalam Davidson, Neale, Kring,
2004), menyebutkan bahwa gangguan konversi mirip dengan malingering, dimana
individu mengadopsi simtom untuk mencapai suatu tujuan. Menurut pandangan
mereka, individu dengan conversion disorder berusaha untuk berperilaku sesuai
dengan pandangan mereka mengenai bagaimana seseorang dengan penyakit yang
mempengaruhi kemampuan motorik atau sensorik, akan bereaksi. Hal ini
menimbulkan dua pertanyaan : (1) Apakah seseorang mampu berbuat demikian? (2)
Dalam kondisi seperti apa perilaku tersebut sering muncul ?
Berdasarkan
bukti-bukti yang ada, maka jawaban untuk pertanyaan (1) adalah ya. Seseorang
dapat mengadopsi pola perilaku yang sesuai dengan gejala klasik conversion.
Misalnya kelumpuhan, analgesias, dan kebutaan, seperti yang kita ketahui, dapat
pula dimunculkan pada orang yang sedang dalam pengaruh hipnotis. Sedangkan
untuk pertanyaan (2) Ullman dan Krasner mengspesifikasikan dua kondisi yang
dapat meningkatkan kecenderungan ketidakmampuan motorik dan sensorik dapat
ditiru. Pertama, individu harus memiliki pengalaman dengan peran yang akan
diadopsi. Individu tersebut dapat memiliki masalah fisik yang serupa atau
mengobservasi gejala tersebut pada orang lain. Kedua, permainan dari peran
tersebut harus diberikan reward. Individu akan menampilkan ketidakampuan hanya
jika perilaku itu diharapkan dapat mengurangi stress atau untuk memperoleh
konsekuensi positif yang lain. Namun pandangan behavioral ini tidak sepenuhnya
didukung oleh bukti-bukti literatur.
Penyebab Gangguan Somatoform
Faktor Sosial dan Budaya pada Conversion Disorder
Salah
satu bukti bahwa faktor sosial dan budaya berperan dalam conversion disorder
ditunjukkan dari semakin berkurangnya gangguan ini dalam beberapa abad
terakhir. Beberapa hipotesis yang menjelaskan bahwa gangguan ini mulai
berkurang adalah misalnya terapis yang ahli dalam bidang psikoanalisis
menyebutkan bahwa dalam paruh kedua abad 19, ketika tingkat kemunculan
conversion disorder tinggi di Perancis dan Austria, perilaku seksual yang di
repress dapat berkontribusi pada meningktnya prevalensi gangguan ini.
Berkurangnya
gangguan ini dapat disebabkan oleh semakin luwesnya norma seksual dan semakin
berkembangnya ilmu psikologi dan kedokteran pada abad ke 20, yang lebih toleran
terhadap kecemasan akibat disfungsi yang tidak berkaitan dengan hal fisiologis
daripada sebelumnya. Selain itu peran faktor sosial dan budaya juga menunjukkan
bahwa conversion disorder lebih sering dialami oleh mereka yang berada di daerah
pedesaan atau berada pada tingkat sosioekonomi yang rendah (Binzer et
al.,1996;Folks, Ford&Regan, 1984 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
Mereka mengalami hal ini dikarenakan oleh kurangnya pengetahuan mengenai konsep
medis dan psikologis. Sementara itu, diagnosis mengenai hysteria berkurang pada
masyarakat industrialis, seperti Inggris, dan lebih umum pada negara yang belum
berkembang, seperti Libya (Pu et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004 ).
Faktor Biologis pada Conversion Disorder
Meskipun
faktor genetic diperkirakan menjadi faktor penting dalam perkembangan
conversion disorder, penelitian tidak mendukung hal ini. Sementara itu, dalam
beberapa penelitian, gejala conversion lebih sering muncul pada bagian kiri
tubuh dibandingkan dengan bagian kanan (Binzer et al.,dalam Davidson, Neale,
Kring, 2004). Hal ini merupakan penemuan menarik karena fungsi bagian kiri
tubuh dikontrol oleh hemisfer kanan otak. Hemisfer kanan otak juga diperkirakan
lebih berperan dibandingkan hemisfer kiri berkaitan dengan emosi negatif. Akan
tetapi, berdasarkan penelitian yang lebih besar diketahui bahwa tidak ada
perbedaan yang dapat diobservasi dari frekuensi gejala pada bagian kanan versus
bagian kiri otak (Roelofs et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
TERAPI
Para
terapis behavioris lebih menyarankan pada mereka yang mengalami gangguan
somatoform, beragam teknik yang dimaksudkan agar mereka menghilangkan
gejala-gejala dari gangguan tersebut.
Terapi untuk Somatization Disorder
Para
ahli kognitif dan behavioral meyakini bahwa tingginya tingkat kecemasan yang
diasosiasikan dengan somatization disorder dipicu oleh situasi khusus. Akan
tetapi semakin banyak pengobatan yang dibutuhkan, bagi orang yang “sakit”
sekian lama maka akan tumbuh kebiasaan akan ketergantungan untuk menghindari
tantangan hidup sehari-hari daripada menghadapi tantangan tersebut sebagai
orang dewasa. Dalam pendekatan yang lebih umum mengenai somatization disorder,
dokter hendaknya tidak meremehkan validitas dari keluhan fisik, tetapi perlu
diminimalisir penggunaan tes-tes diagnosis dan obat-obatan, mempertahankan
hubungan dengan mereka terlepas dari apakah mereka mengeluh tentang penyakitnya
atau tidak (Monson&Smith dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
Terapi untuk Hypochondriasis
Secara
umum, pendekatan cognitive-behavioral terbukti efektif dalam mengurangi
hypochondriasis (e.g. Bach, 2000; Feranandez, Rodriguez&Fernandez, 2001,
dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Penelitian menujukkan bahwa penderita
hypochondriasis memperlihatkan bias kognitif dalam melihat ancaman ketika
berkaitan dengan isu kesehatan (Smeets et al., dalam Davidson, Neale, Kring,
2004). Cognitive-behavioral therapy dapat bertujuan untuk mengubah pemikiran
pesimistis. Selain itu, pengobatan juga hendaknya dikaitkan dengan strategi
yang mengalihkan penderita gangguan ini dari gejala-gejala tubuh dan meyakinkan
mereka untuk mencari kepastian medis bahwa mereka tidak sakit (e.g.
Salkovskis&Warwick, 1986;Visser&Bouman, 1992;Warwick&Salkovskis,
2001 dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).
Terapi untuk Pain Disorder
Pengobatan yang efektif cenderung memiliki hal-hal berikut:
·
Memvalidasikan
bahwa rasa nyeri itu adalah nyata dan bukan hanya ada dalam pikiran
penderita.
·
Relaxation
training
·
Memberi
reward kepada mereka yang berperilaku tidak seperti orang yang mengalami rasa
nyeri
Secara
umum disarankan untuk mengubah fokus perhatian dari apa yang tidak dapat
dilakukan oleh penderita akibat rasa nyeri yang dialaminya, tetapi mengajari
penderita bagaimana caranya menghadapi stress, mendorong untuk mengerjakan
aktivitas yang lebih baik, dan meningkatkan kontrol diri, terlepas dari
keterbatasan fisik atau ketidaknyamanan yang penderita rasakan.
Penanganan Gangguan Somatoform secara umum
Pendekatan
behavioral untuk menangani gangguan konversi dan somtoform lainnya menekankan
pada menghilangkan sumber dari reinforcement
sekunder (keuntungan sekunder) yang dapat dihubungkan dalam keluhan-keluhan
fisik. Terapis behavioral dapat
bekerja secara lebih langsung dengan si penderita gangguan somatoform, membantu
orang tersebut belajar dalam menangani stress atau kecemasan dengan cara yang
lebih adaptif.
Teknik
kognitif-behavioral paling sering
pemaparan terhadap pencegahan respond an restrukturisasi kognitif. Secara
sengaja memunculkankerusakan yang dipersepsikan di depan umum, dan bukan
menutupinya melalui penggunaan rias wajah dan pakaian. Dalam restrukturisasi
kognitif, terapis menantang keyakinan klien yang terdistorsi mengenai
penampilan fisiknya dan cara meyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan
mereka dengan bukti yang jelas. Penggunaan antidepresan, terutama fluoxetine(Prozac) dalam menangani
beberapa tipe gangguan somatoform.
GANGGUAN DISOSIATIF (DISSOCIATIVE DISORDERS)
Disosiasi
psikologis adalah perubahan kesadaran mendadak yang mempengaruhi memori dan
identitas. Para individu yang menderita gangguan disosiatif tidak mampu
mengingat berbagai peristiwa pribadi penting atau selama beberapa saat lupa
akan identitasnya atau bahkan membentuk identitas baru. Secara umum gangguan
disosiatif (dissociative disorders)
bisa didefinisikan sebagai adanya kehilangan (sebagian atau seluruh) dari
integrasi normal (di bawah kendali sadar) yang meliputi ingatan masa lalu,
kesadaran identitas dan penginderaanan segera (awareness
of identity and immediate sensations),
serta control terhadap gerak tubuh.
Gejala
utama gangguan ini adalah adanya kehilangan (sebagian atau seluruh dari
integrasi normal (dibawah kendali kesadaran) antara lain:
·
ingatan
masa lalu
·
kesadaran
identitas dan penginderaan (awareness of identity and immediate
sensations)
·
kontrol
terhadap gerakan tubuh
MACAM-MACAM GANGGUAN
DISSOSIATIF
1.
Amnesia Disosiatif
Amnesia
disosiatif adalah hilangnya memori setelah kejadian yang penuh stres. Seseorang
yang menderita gangguan ini tidak mampu mengingat informasi pribadi yang
penting, biasanya setelah suatu episode yang penuh stres.Pada amnesia total,
penderita tidak mengenali keluarga dan teman-temannya, tetapi tetap memiliki
kemampuan bicara, membaca dan penalaran, juga tetap memiliki bakat dan
pengetahuan tentang dunia yang telah diperoleh sebelumnya.
Perkembangan Klinis amnesia
disosiatif:
·
Hilangnya
daya ingat (sebagian / seluruh), biasanya mengenai kejadian-kejadian penting
(stressful, traumatik) yang baru terjadi, tidak disebabkan gangguan mental
organic, kelupaan, kelelahan, intoksikasi.
·
Individu
tiba-tiba menjadi tidak dapat mengingat kembali informasi personal yang penting
(biasanya setelah mengalami beberapa peristiwa stressful).
·
Selama
periode amnesia, perilaku atau kemampuan individu mungkin tidak berubah,
kecuali bahwa hilangnya memori menyebabkan beberapa disorientasi, tidak
mengenali identitas (asal, teman, keluarga, dll)
·
Hilangnya
memori
·
Bisa
hanya untuk peristiwa tertentu atau seluruh peristiwa kehidupan
·
Biasanya
berlangsung dalam periode waktu tertentu, bisa beberapa jam sampai dengan
beberapa tahun
·
Memori
biasanya kembali muncul secara tiba-tiba juga, lengkap seperti sebelumnya
(hanya sedikit kemungkinan untuk kambuh)
·
Hilangnya
memori tidak sama dengan yang disebabkan oleh kerusakan otak atau karena
ketergantungan obat.
2.
Fugue Disosiatif
Fugue
disosiatif adalah hilangnya memori yang disertai dengan meninggalkan rumah dan
menciptakan identitas baru. Dalam fugue disosiatif, hilangnya memori lebih
besar dibanding dalam amnesia disosiatif. Orang yang mengalami fugue disosiatif
tidak hanya mengalami amnesia total, namun tiba-tiba meninggalkan rumah dan
beraktivitas dengan menggunakan identitas baru.
Perkembangan klinis Fugue Disosiatif:
·
Gangguan
di mana individu melupakan informasi personal yang penting dan membentuk
identitas baru, juga pindah ke tempat baru.
·
Individu
tidak hanya mengalami amnesia secara total, namun juga tiba-tiba pindah
(melarikan diri) dari rumah dan pekerjaan, serta membentuk identitas
baru.
·
Biasanya
terjadi setelah seseorang mengalami beberapa stress yang berat (konflik dengan
pasangan, kehilangan pekerjaan, penderitaan karena bencana alam).
·
Identitas
baru sering berkaitan dengan nama, rumah, pekerjaan bahkan karakteristik
personality yang baru. Di kehidupan yang baru, individu bisa sukses walaupun
tidak mampu untuk mengingat masa lalu.
·
Recovery biasanya lengkap dan individu
biasanya tidak ingat apa yang terjadi selama fugue.
3.
Gangguan Depersonalisasi
Gangguan
depersonalisasi adalah suatu kondisi dimana persepsi atau pengalaman seseorang
terhadap diri sendiri berubah. Dalam episode depersonalisasi, yang umumnya
dipicu oleh stres, individu secara mendadak kehilangan rasa diri mereka. Para
penderita gangguan ini mengalami pengalaman sensori yang tidak biasa, misalnya
ukuran tangan dan kaki mereka berubah secara drastis, atau suara mereka
terdengar asing bagi mereka sendiri. Penderita juga merasa berada di luar tubuh
mereka, menatap diri mereka sendiri dari kejauhan, terkadang mereka merasa
seperti robot, atau mereka seolah bergerak di dunia nyata.
Perkembangan klinis gangguan Dipersonalisasi:
v
Gangguan
di mana adanya perubahan dalam persepsi atau pengalaman individu mengenai
dirinya.
v
Individu
merasa “tidak riil” dan merasa asing terhadap diri dan sekelilingnya, cukup
mengganggu fungsi dirinya.
v
Memori
tidak berubah, tapi individu kehilangan sense
of self.
v
Gangguan
ini menyebabkan stress dan menimbulkan hambatan dalam berbagai fungsi
kehidupan.
v
Biasanya
terjadi setelah mengalami stress berat, seperti kecelakaan atau situasi yang
berbahaya.
v
Biasanya
berawal pada masa remaja dan perjalanannya bersifat kronis (dalam waktu yang
lama).
4.
Gangguan Identitas Disosiatif
Gangguan
identitas disosiatif suatu kondisi dimana seseorang memiliki minimal dua atau
lebih kondisi ego yang berganti-ganti, yang satu sama lain bertindak bebas.
Menurut DSM-IV-TR, diagnosis gangguan disosiatif (GID) dapat ditegakkan bila
seseorang memiliki sekurang-kurangnya dua kondisi ego yang terpisah, atau
berubah-ubah, kondisi yang berbeda dalam keberadaan, perasaan dan tindakan yang
satu sama lain tidak saling mempengaruhi dan yang muncul serta memegang kendali
pada waktu yang berbeda.
Perkembangan Gangguan Indentitas Disosiatif:
·
Individu
memiliki setidaknya dua kepribadian yang berbeda (adanya perbedaan dalam
keberadaan, feeling, perilaku),
bahkan ada yang bertolak belakang.
·
Adanya
dua atau lebih kepribadian yang terpisah dan berbeda pada seseorang. Setiap
kepribadian memiliki pola perilaku, hubungan dan memori masing-masing.
·
Kepribadian
yang asli dan pecahannya kadang dapat menyadari adanya periode waktu yang
hilang, adanya kepribadian yang lain. Suara dari kepribadian yang lain sering
bergema, masuk ke kesadaran mereka tapi tidak diketahui milik siapa.
·
Gap
dalam memori mungkin terjadi jika suatu kepribadian tidak berkaitan dengan
kepribadian yang lain.
·
Keberadaan
pribadi-pribadiyang berbeda menyebabkan gangguan dalam kehidupan seseorang dan
tidak dapat disembuhkan seketika oleh obat-obatan.
·
Biasanya
muncul di awal masa kanak-kanak (adanya trauma berat di masa kanak-kanak),
namun jarang didiagnosis sampai masa remaja. Lebih berat dari bentuk gangguan
disosiatif lainnya
·
Wanita
> pria
Secara
singkat kriteria DSM-IV-TR untuk gangguan identitas disosiatif ialah:
a.
Keberadaan dua atau lebih kepribadian atau identitas
b.
Sekurang-kurangnya dua kepribadian mengendalikan perilaku secara berulang
c.
Ketidakmampuan untuk mengingat informasi pribadi yang penting.
ETIOLOGI
(PENYEBAB)
Istilah
gangguan disosiatif merujuk pada mekanisme, dissosiasi, yang diduga menjadi
penyebabnya. Pemikiran dasarnya adalah kesadaran biasanya merupakan kesatuan
pengalaman, termasuk kognisi, emosi dan motivasi. Namun dalam kondisi stres,
memori trauma dapat disimpan dengan suatu cara sehingga di kemudian hari tidak
dapat diakses oleh kesadaran seiring dengan kembali normalnya kondisi orang
yang bersangkutan, sehingga kemungkinan akibatnya adalah amnesia atau fugue.
Pandangan
behavioral mengenai gangguan disosiatif agak mirip dengan berbagai spekulasi
awal tersebut. Secara umum para teoris behavioral menganggap dissosiasi sebagai
respon penuh stres dan ingatan akan kejadian tersebut.
Etiologi GID. Terdapat dua teori besar mengenai GID. Salah satu teori
berasumsi bahwa GID berawal pada masa kanak-kanak yang diakibatkan oleh
penyiksaan secara fisik atau seksual. Penyiksaan tersebut mengakibatkan
dissosiasi dan terbentuknya berbagai kepribadian lain sebagai suatu cara untuk
mengatasi trauma (Gleaves, 1996). Teori lain beranggapan bahwa GID merupakan
pelaksanaan peran sosial yang dipelajari. Berbagai kepribadian yang muncul pada
masa dewasa umumnya karena berbagai sugesti yang diberikan terapis (Lilienfel
dkk, 1999; Spanos, 1994). Dalam teori ini GID tidak dianggap sebagai
penyimpangan kesadaran; masalahnya tidak terletak pada apakah GID benar-benar
dialami atau tidak, namun bagaimana GID terjadi dan menetap.
Sindrom dissosiatif yang terkait dengan budaya
Ada
kesamaan antara konsep barat akan gangguan disosiatif dengn sindrom – sindrom
tertentu yang terkait dengan budaya yang di temukan di lain dunia. Contohnya,
zar-Istilah yang di gunakan negara – Negara Afrika Utara dan Timur Tengah
menggambarkan penguasaan roh – roh dalam diri orang yang mengalami tahap
disosiatif. Saat tahap ini terjadi individu terlibat dalam perilaku yang tidak
biasa, mulai dari berteriak – teriak hingga membenturkan kepalanya ke dinding.
Perilaku ini di sebut abnormal. Karena di percaya bahwa hal tersebut di control
oleh roh – roh.
Pandangan-pandangan Teoritis
Gangguan
disosiatif merupakan fenomena yang sangat mengagumkan dan menarik. Bagaimana
perasaan seseorang akan identitas dirinya bias menjadi sangat terdistorsi
hingga orang tersebut membangun kepribadian ganda, kehilangan banyak potongan
dari ingatan pribadi, atau membentuk sebuah identitas baru.
Pandangan Psikodinamika
Amnesia
disosiatif dapat menjadi suatu fungsi adaptif dengan cara memutus atau
mendisosiasi alam sadar seseorang dari kesadAran akan pengalaman yang
traumatis. Gangguan disosiatif melibatkan pengguna represi srcara besar –
besaran yang menghasilkan terpisahnya impuls yang tidak dapat diterima dan
ingatan yang menyakitkan dari ingatan seseorang. Dalam amnesia dan fugue
disosiatif, ego melindungi dirinya sendiri dari kebanjiran kecemasan dengan
mengeluarkan ingatan yang menggangu atau dengan mendisosiasi impuls menakutkan
yang bersifat bIseksual atau agresif. Pada kepribadian ganda, orang mungkin
mengekspresikan impuls – impuls yang tidak dapt di terima ini melalui
pengembangan kepribadian pengganti. Pada depersonalisasi orang berada di luar
dirinya sendiri aman dengan cara menjauhi dari pertarungan emosional di dalam
dirinya.
Pandangan Kognitif & Budaya
Teoritikus
belajar dan kognitif memandang disosiasi sebagai suatu respons yang dipelajari,
meliputi proses tidak berpikir tentang tindakan atau pikiran yang menggangu
dalam rangka menghindari rasa bersalah dan malu yang di timbulkan pleh
pengalaman. Kebiasaan tidak berpikir tentang masalah– masalah tersebut secara
negative dikuatkan dengan adanya perasaan terbebas dari kecemasan atau dengan
memindahkan perasaan bersalah atau malu.
Disfungsi Otak
Perbedaan
dari aktivitas metabolisme otak antara orang dengan gangguan depersonalisasi
dan subjek yang sehat. Penemuan ini yang menekankan pada kemungkinan adanya
disfungsi di bagian otak yang terlibat dalam persepsi tubuh, dapat membantu
menjelaskan perasaan terpisah dari tubuh yang di asosiasikan dengan
depersonalisasi.
Ciri-ciri Dissociative Fugue antara lain:
- Pergi jauh dari rumah atau tempat kerja secara tiba-tiba dan tidak mampu mengingat masa lalunya.
- Bingung terhadap identitas pribadi atau mendapatkan identitas baru secara persial atau total.
- Gangguan tidak terjadi secara eksklusif selama berlangsungnya gangguan identitas dissosiative, dan bukan disebabkan oleh substansi tertentu atau kondisi medis secara umum
- Gangguan menyebabkan distress atau daya ingat significant untuk berfungsi secara normal.
Penanganan
gangguan disosiatif yang lain meliputi :
- Terapi kesenian kreatif. Dalam beberapa referensi dikatakan bahwa tipe terapi ini menggunakan proses kreatif untuk membantu pasien yang sulit mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka. Seni kreatif dapat membantu meningkatkan kesadaran diri. Terapi seni kreatif meliputi kesenian, tari, drama dan puisi.
- Terapi kognitif. Terapi kognitif ini bisa membantu untuk mengidentifikasikan kelakuan yang negative dan tidak sehat dan menggantikannya dengan yang positif dan sehat, dan semua tergantung dari ide dalam pikiran untuk mendeterminasikan apa yang menjadi perilaku pemeriksa.
- Terapi obat. Terapi ini sangat baik untuk dijadikan penangan awal, walaupun tidak ada obat yang spesifik dalam menangani gangguan disosiatif ini. Biasanya pasien diberikan resep berupa anti-depresan dan obat anti-cemas untuk membantu mengontrol gejala mental pada gangguan disosiatif ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Davidson,
Gerald, dkk. 2006. Psikologi Abnormal.
Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada Press
V.
Mark Durank & Dvid H.Barlow.2006.Psikologi
Abnormal. Jilid 1 dan 2.Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Nevid
S.Jeffrey dkk. 2005. Psikologi Abnormal.
Jakarta: PT.Gelora Aksara
Tomb,
David. A. 2000. Psikiatri Edisi 6. Jakarta:
EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar