PENDAHULUAN
Ditinjau dari aspek
kehidupan manapun, kebutuhan akan kreativitas sangatlah penting. Menurut
Safaria ( 2005 )
(Wijayanti, 2010) ada beberapa alasan mengapa kreativitas
perlu dipupuk sejak dini. Pertama,
proses kreatif merupakan perwujudan dari aktualisasi diri. Kedua,kreativitas adalah kemampuan untuk menemukan cara-cara baru
dalam dalam memecahkan masalah. Ketiga,menyibukan
diri dalam proses kreatif, bermanfaat bagi masyarakat dan juga bagi anak.
Karena dari kegiatan kreatif anak akan mendapatkan kepuasan yang tinggi,
sehingga hal ini akan meningkatkan makna dankebahagiaan hidup anak. Keempat, kreativitas menjadikan
peradaban manusia berkembang dengan
pesat.
Faktor lingkungan
seperti keluarga dan sekolah dapat berpungsi sebgai pendorong dalam pengembangan
kreativitas anak ( Munandar,2002
) (Wijayanti, 2010)
sehingga peran orangtua dan pendidik sangat penting dalam memberikan dorongan
dan tutunan bagi anak. Namun menurut Mulyadi yang menjadi orientasi pendidikan
saat ini, adalah bagaimana menciptakan anak yang cerdas secara
logika,matematika, dan bahasa. Pada hal hasil penelitian Goleman mengungkapkan
bahwa orang yang sukses belum tentu yang Iqnya tinggi. Alasanya adalah IQ
hanyalah sebagian kecil dari potensi manusia. Faktor lain seperti kecerdasan
emosi, kecerdasan moral, dan kecerdasan menghadapi kenyataan, juga berpengaruh
besar (dalam
suara pembaharuan, 13, januari 2006 )
Imajinasi yang aktif
adalah inti dari pemikiran yang kreatif. Kerangaka pemikiran ini penting untuk
terbukanya kemungkinan menjadi kreatif. Tetapi perkembangan masyarakat kita
mengharuskan anak-anak tumbuh dan berkembang seperti orang lain (presbury,
1990) (Wijayanti,
2010).
Ini diperkuata oleh penelitian moran (1988) yang menunjukan bahwa melalui
proses sosial, anak-anak berkembang kearah komformitasselama tahun-tahun
sekolah dasar. Persentase respon original pada ide-ide kelancaran tugas menurun
sebesar 50 persenpada usia 5 tahun 25 persen selama disekolah dasar kemudian
kembali meningkat 50 persen di perguruan tinggi. Hal ini keminan besar yang
menjadi alasan, kreativitas anak indonesia kurang berkembang dengan
baik.kenyataan tersebut juga dibuktikan dengan hasil penelitiandari Jellen dan
Urban yang dikutip Munandar,
(2002) yang menggunakan TCT-DP
untuk mengukur kreativitas dengan mengambil sempel anak-anak sekolah dasar dari
delapan negara termasuk indonesia. Ternyata dari hasil penelitian jellen dan
urban, anak indonesia mencapai skor kreativitas paling rendah dibandingkan
dengan negara-negara lain. Seperti filipina,india, dan afrika selatan.
Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dengan lingkun ganya
(munandar, 2002)
(Wijayanti, 2010), Seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi
oleh lingkungan dimna dia berada, dengan demikian baik perubah didalam individu
maupun didalam lingkungan dapat menun jang atau dapat menghambat upaya kreatif.
Implikasinya adalah bahwa kemampuan kreatif dapat ditingkatkan melalui
pendidikan.
Model pendidikan yang
paling terkenal dan diakui masyarakat adalah sistem sekolah atau pendidikan
formal baik yang diselenggarakan pemerintah ataupun swasta. Pendidikan formal
adalah jalur pendidikan yang tersetruktur dan berjenjang yang terdiri atas
pendidkan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikaan menegah, dan pendidkan
tinggi.
A.
Kreativitas
Menurut rodes (dalam
munandar,2002) (Wijayanti,
2010),
kreativitas dapat dirumuskan dalam istilah pribadi, proses, pendorong dan
produk. Drevdahl (dalam harlock, 1978) (Wijayanti, 2010) mendefiniskan kretifitas sebagai
kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk atau gagasan apa saja
yang pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal pembuatannya. Hasil
kreativitas, di samping di pengaruhi oleh kemampuan kognitif juga dipengaruhi
oleh beberapa faktor sikap, motivasi, dan tempramen.
Berdasarkan difinisi-deefinisi
di atas dapat disimpulkan bahwa
krestivitas merupakan pembentkan dari kemampuan kognitif yang terdiri dari
kelancaran berfikir (fluency), keuwesan berfikir (flexibility), elaborasi
pemikiran (elaboration) dan kualitas afektif dari terbuka terhadap pengalaman
baru, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tidak takut melakukan kesalahan
ketika mengemukakan ide, imajinatif, dan berani mengambil resiko terhadap
langkah-langkah yang diambil.
B.
Pendidikan
Formal
Pendidikan formal
adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas
pendidikan anak usia dini. Pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan
tinggi.
C.
Homeschooling
Homeschooling yang
dalam bahasa indonesia digunakan istilah sekolah rumah adalah model alternatif
belajar selain sekolah. Menurut direktur pendidikan kesetaraan departemen
pendidikan nasional (Depdiknas), homeschooling adalah proses layanan pendidikan
yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua atau keluarga
di mana proses belajar mengajar berlangsung dalam susasana yang kogitif.
Berdasarkan beberapa
pengertian di atas, dapat di simpulkan bahwa homeschooling adalah proses
layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang
tua atau keluarga dimana proses mengajar berlangsung dalam susasana yang
kondusif. Tujuannya agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara
maksimal. Mayoritas homeschooling
(71%) memiliki sendiri materi pelajaran dan kurikulum dari yang tersdia,
kemudian melakukan penyesusaian agar sesuai dengan kebutuhan anak-anak keadaan
keluarga dan persyaratan dari pemerintah. Selain itu, 24% diantaranya
menggunakan paket kurikulum lengkap yang dibeli dari lembaga penyedia kurikulam
dan materi ajar. Sekitar 3% menggunakan materi dari sekolah satelit (partner homeschooling) atau program
khasus yang dijalankan oleh sekolah swasta setempat.
D. Jenis-jenis
Homeschooling
Nadhirin
(2008) berpendapat sebagai berikut.
Metode
homeschooling ada tiga jenis. Pertama, homeschooling tunggal, kemudian homeschooling
majemuk yang terdiri dari dua keluarga, dan yang terakhir homeschooling
komunitas.
1.
Homeschooling tunggal adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh orang tua
dalam suatu keluarga tanpa bergabung dengan lainnya. Dalam hal ini orang tua
terjun langsung sebagai guru menangani proses belajar anaknya, jika pun ada
guru yang didatangkan secara privat hanya akan membimbing dan mengarahkan minat
anak dalam mata pelajaran yang disukainya. Guru tersebut bisa berasal dari
lembaga-lembaga yang khusus menyelengarakan program homeschooling, contonya
adalah lembaga Asah Pena asuhan Kak Seto. Lembaga ini mempunyai tim yang
namanya Badan Tutorial yang terdiri dari lulusan berbagai jenis profesi
pendidikan.
2.
Homeschooling majemuk adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh dua atau
lebih keluarga untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap
dilaksanakan oleh orang tua masing-masing.
3.
Sementara homeschooling komunitas adalah gabungan beberapa homeschooling
majemuk yang menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olah raga, seni
dan bahasa), sarana/prasarana dan jadwal pembelelajaran. Dalam hal ini beberapa
keluarga memberikan kepercayaan kepada Badan Tutorial untuk memberi materi
pelajaran. Badan tutorial melakukan kunjungannya ke tempat yang disediakan
komunitas.
E. Prosedur
Untuk Memulai Homeschoolinng
1. Datang ke Dinas Pendidikan setempat di
kabupaten atau kota Anda, di bagian Kasubdin Bidang Pendidikan Luar Sekolah.
2. Membuat surat pernyataan dari kedua orangtua
bahwa orangtua siap dan bertanggungjawab untuk melaksanakan pendidikan
anak-anak di rumah, sesuai aturan pemerintah tentang wajib belajar bagi
anak-anak Indonesia.
3. Jika peserta didik berusia di atas 13 tahun
dan masuk ke jenjang sekolah menengah, ia perlu melampirkan surat pernyataan
kesiapan dan kesediaan mengikuti sistem belajar Homeschooling.
4. Melampirkan fotokopi rapor atau ijazah
terakhir jika sebelumnya pernah mengikuti pendidikan formal. Dan juga
melampirkan surat pengunduran diri dari sekolah.
5. Mencantumkan format sekolah rumah yang akan
dilaksanakan, jadwal belajar, kegiatan atau program yang diselenggarakan, juga
kurikulum yang dipakai.
6. Izin badan hukum dari yayasan atau lembaga
jika mendirikan homeschooling majemuk/kelompok. Untuk homeschooling majemuk ini
minimal terdiri dari 5 keluarga dan
maksimum 10 keluarga.
7. Meminta kurikulum dari Dinas Pendidikan untuk
setiap tingkat kesetaraan.
F. Kelebihan
Dan Kekurangan Homeshcooling
Berikut
beberapa kelebihan serta kekurangan dari metode belajar di rumah, seperti dikutip
dari Parenting.
Kelebihan:
1. Waktu
yang lebih fleksibel
Metode
bersekolah di rumah memberikan kelonggaran waktu bagi anak-anak. Mereka bisa
menentukan waktu belajar mereka sendiri.
2.
Sosialisasi
Metode
bersekolah di rumah membuat anak Anda tak hanya bersosialisasi dengan teman
sepermainan dengan umur yang sama, namun juga dengan orang-orang yang jauh
lebih tua dari mereka (para staf pengajar).
3. Belajar
setiap saat
Saat anak
Anda sakit, atau kurang enak badan, ia tetap dapat belajar di rumah.
4. Kurikulum
lebih terfokus
Anak bisa
langsung memilih kurikulum yang ia minati saja, dan tidak perlu mempelajari
segala sesuatu yang sifatnya terlalu umum.
5. Bebas
dari ancaman teman
Seringkali
anak-anak merasakan tekanan dari teman sebayanya yang membuatnya trauma dan
ketakutan. Sekolah di rumah membuat anak Anda terbebas dari hal tersebut.
Kekurangan:
1. Kurang
pengajaran disiplin
Terlalu
fleksibel bisa menjadi bumerang bagi anak Anda. Tak adanya waktu yang jelas
saat menjalankan pendidikan bisa membuat disiplin anak-anak berkurang.
2. Minimnya
kompetisi
Home
schooling mengurangi kesempatan anak untuk berkompetisi secara sehat dengan
teman sebayanya dalam bidang apapun. Padahal kompetisi akan membangkitkan
semangatnya untuk lebih maju.
3. Belum
ada standardisasi kurikulum
Karena home
schooling termasuk metode pengajaran yang masih jarang, maka belum ada standar
kurikulum yang jelas di Indonesia.
4.
Sosialisasi
Anak-anak
juga perlu bersosialisasi dengan teman sebayanya. Anda memang tidak bisa
melindunginya setiap saat tekanan anak-anak lain. Namun hal itu juga bisa
membuatnya menjadi semakin berani, dan belajar menghadapi segala masalah.
5. Keuangan
Sekolah di
rumah biasanya membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dari sekolah umum.
Sebelum memutuskan memilih metode ini, Anda harus memastikan dulu kondisi
keuangan Anda.
G. Persamaan
dan Perbedaan Homeschooling dengan Sekolah pada Umumnya
Homeschooling
dan sekolah pada umumnya memiliki beberapa kesamaan. Beberapa kesamaan itu
antara lain adalah sama-sama sebuah sarana pendidikan yang bertujuan untuk
mendidik anak, homeschooling dan sekolah pada umumnya sama-sama sebuah media
pembelajaran, homeschooling dan sekolah pada umumnya sama-sama mengantarkan
anak pada tujuan pendidikan yang ingin dicapainya.
Selain itu
homeschooling dan sekolah-sekolah umum juga memiliki perbedaan. Perbedaan
tersebut antara lain adalah:
-
Apabila
sistem yang ada disekolah cenderung memiliki standar-standar tertentu sedangkan
pada homeschooling cenderung disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi keluarga
tersebut.
-
Di
sekolah umum lebih berpedoman pada
kurikulum, namun homeschooling tidak berpedoman pada kurikulum, melainkan lebih
disesuaikan denan kondisi keluarga yang ada.
-
Jadwal
belajar di sekolah telah ditentukan dan sudah mutlak, namun jadwal belajar
homeschooling adalah fleksibel. Jadwal belajar homeschooling dapat diatur
sesuai dengan kesepakatan anak dan orang tua maupun pembina homeschooling.
-
Pada
sekolah umum, guru memiliki tanggung jawab atas peserta didik. Para orang tua
memberikan kepercayaan kepada guru pembina. Sedangkan pada homeschooling orang
tua bertanggungajawab sepenuhnya atas anak. Orang tua harus selalu
berpartisipasi dalam pendidikan anak.
-
Pada
sekolah, peran orang tua dalam membimbing anak cemderung tidak maksimal, karena
pendidikan sekolah dijalankan oleh sistem dan guru. Sedangkan pada
homeschooling peran orang tua sangat penting, karena peran orang tua juga
sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak.
H.
Teori Kecerdasan Ganda / multiple intelegency theory
1. Pengertian
Teori Kecerdasan Ganda
Teori
Kecerdasan Ganda (Multiple Inteligence) yang dikemukakan oleh Howard Gardner –
seorang professor psikologi dari Harvard University – akan dijadikan acuan
untuk lebih memahami bakat dan kecerdasan individu.
Kecerdasan
merupakan potensi yang dimiliki seseorang yang dapat diaktifkan melalui proses
belajar, interaksi dengan keluarga, guru, teman dan nilai-nilai budaya yang
berkembang. Kecerdasan mengandung dua aspek pokok yaitu; kemampuan belajar dari
pengalaman dan beradaptasi terhadap lingkungan.
2. Macam-macam
kecerdasan Ganda
Gardner
(1983) berhasil mengidentifikasi tujuh macam kecerdasan, yang kemudian dikenal
sebagai kecerdasan ganda (Multiple Intelligence) atau biasa disingkat dengan
MI. Ketujuh jenis kecerdasan tersebut adalah musical/rhythmic intelligence
bodily/kinesthetic intelligence, logical/mathematical intelligence,
visual/spatial intelligence, verbal/linguistic intelligence, interpersonal
intelligence, dan intrapersonal intelligence
(dalam perkembangannya ditambah satu jenis kecerdasan sehingga menjadi delapan,
yakni naturalistic intelligence).
Setiap
individu memiliki potensi yang unik yang harus dikembangkan menjadi kompetensi.
Pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengembangkan potensi
individu menjadi kompetensi. Manusia, pada dasarnya, memiliki beberapa jenis kecerdasan yang
menonjol. Howard Gardner, seorang pakar psikologi dari Harvard University,
mengemukakan delapan jenis kecerdasan yang meliputi kecerdasan:
|
JENIS
KECERDASAN
|
KECENDERUNGAN /
KEGEMARAN
|
METODE
BELAJAR
|
|
|
Bahasa /
Verbal
|
Gemar :
-
membaca
-
Menulis
-
Bercerita
-
Bermain kata
|
Membaca,
menulis, mendengar
|
|
|
Matematis
Logis
|
Gemar :
-
bereksperimen
-
tanya jawab
-
menjawawab teka-teki
logis
|
Berhitung,
aplikasi rumus, eksperimen
|
|
|
Spasial
|
Gemar :
-
Mendesain
-
Menggambar
-
Berimajinasi
-
Membuat sketsa
|
Observasi,
menggambar, mewarnai, membuat peta
|
|
|
Kinestetik
tubuh
|
Gemar :
-
menari
-
berlari
-
melompat
-
meraba
-
memberi isyarat
|
Membangun,
mempraktekan. menari, ekspresi
|
|
|
Musikal
|
Gemar :
-
bernyanyi
-
bersiul
-
bersenandung
|
Menyanyi,
menghayati lagu, mamainkan instrumen musik
|
|
|
Interpersonal
|
Gemar :
-
memimpin
-
berorganisasi
|
Observasi
alam dan mengidentifikasi karakteristik flora dan fauna
|
|
I.
Hubungan
antara Kreativitas dengan Pendidikan Formal dan Homeschooling
Setiap anak dilahirkan
memiliki potensi kreatif. Hal ini terlihat pada waktu anak berusia satu sampai
dua tahun. Pada masa-masa kritis tersebut potensi kreatif anak yang mulai
tumbuh dan berkembang seringkali menjadi terhambat karena faktor-faktor
tertentu, seperti larangan-larangan orangtua terhadap aktivitas anak sehingga
anak tidak memiliki Kebebasan untuk bereksplorasi. Akibat negatifdari
larangan-larangan yang ditegaskan orangtua membuat anak menjadi takut, tidak
percaya diri, menjadi anak yang pasif, pemalu dan merasa tidak mampu. Pada
masa-masa perkembang yang keritis ini sangat penting sekali bagi anak untuk
memperoleh dukkungan dan dorongan dalam mengembangkan kereativitas-nya. Menurut
huriock (1995), perkembangan kreativitas sangat dipengaruh oleh dorongan dari
lingkungan, sarana yang mendukung perkembangan kreativitas anak, lingkungan
yang merangsang, dan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan. Kesemua hal tersebut kemungkinan
besar dapat diperoleh anak saat mereka mulai bersekolah, disamping lingkungan
keluarga juga ikut berperang dalam mengembangkan kreativitas anak.
Kreativitas sangat
penting untuk dikembangkan dan diajarkan sejak dini, karena jika anak memiliki
kreativitas yang tinggi maka diharapkan anak akan mampu memecahkan persoalan
yang dihadapinya secara efektif dan efesien. Akibatnya ,anak memiliki
kemungkinan lebih besar untuk sukses di masa depanya. Kereativitas anak-anak
biasanya akan lebih berkembang ketika bersekolah, karena sekolah tempat
anak-anak untuk belajer bersosialisasi deng orang lain dan belajar keterapilan-keterampilan
yang tidak didapati anak ketika mereka di rumah.
Pormadi
(2007) mengemuakan kelebihan homeschooling adalah susuai dengan
kebutuhan anak dan kondisi keluarga; lebih memberikan peluang kemandirian dan
kretivitas individu yang tidak didapatkan di sekolah umum; dapat memaksimalkan
potensi anak, tanpa harus mengikuti
standar waktu yang ditetapkan sekolah, homeschooling juga mempunyai
kelemahan-kelemahan antara lain, membutuhkan komitmen dan tanggung jawab yang
tinggi dari orang tua. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan formal dan homeschooling
mempunyai pengaruh yang besar dalam meningkatkan kretivitas anak.
J.
Hipotesis
Ada perbedaan tingkat
kreativitas antara anak yang menempuh pendidikan formal dengan anak yang
menempuh pendidikan homeschooling.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan
mengambil subjek 31 anak Sekolah Dasar yang berusia sekitar 9 tahun sampai 11
tahun. Subjek penelitian diambil dari 20 siswa SD Demakijo II kelas IV dan 11
siswa SD Homeschooling Group Khoirul Ummah 7 yang terdiri dari 7 siswa kelas
III dan 4 siswa kelas IV.
Metode yang digunakan untuk mengukur
kreativitas dalam penelitian ini adalah Torrance
Test of Creative Thinking Figural Form B yang mana dibagi mrnjadi tiga
aktivitas, yaitu: Picture Construcstion, Picture Completion dan Circle. Namun
dari ketiga macam tes Circle saja yang digunakan untuk mengukur kreativitas
anak. Circle tes mempunyai 36 lingkaran yang berdiameter 2cm yang berfungsi
sebagai stimulasi. Dalam ini subjek diminta membuat beberapa gambar dengan
menggunakan lingkaran sebagai stimulus.
Penelitian
ini menggunakan menggunakan metode statistik independent sample t tests untuk
menganalisis data, karena tujuan dari penelitian ini adlah membandingkan
rata-rata dari dua sempel yang tidak berhubungan satu dengan yang lainnya,
yaitu membandimgkan kreativitas antara anal yang mengampu pendidikan formal
dengan anak yang mengampu pendidikn homeschooling.
CIRCLE TEST : Tes kreatif figural (tes lingkaran)
Tes kreatif figural merupakan adaptasi dari circle test. Tes kreatif
figural adalah: tes yang mengukur aspek fleksibelitas, orsinalitas dan
elaborasi dari kemampuan berfikir kreatif.
Aspek
fleksibelitas maksudnya adalah; Anak mampu memberikan jawaban yang
berbeda-beda. Untuk gambar lingkaran, contohnya, anak mengasosiasikannya
sebagai piring, bulan, bola, telur dadar dan sebagainya. Anak juga diminta
untuk membuat sebanyak mungkin objek mati maupun hidup pada gambar lingkaran
tadi.. Namun, tes kreativitas ini bukan dimaksudkan sebagai tes menggambar,
melainkan sebagai tes gagasan, sehingga unsur "keindahan" tidak
diprioritaskan.
Sementara
itu aspek orsinalitas maksudnya adalah: Anak mampu memberikan jawaban yang
jarang/langka dan berbeda dengan jawaban anak lain pada umumnya. Dari bentuk
lingkaran yang sama, contohnya, anak mahir menggambarkannya sebagai wajah
orang.
Selain itu, aspek elaborasi maksudnya yaitu: Anak mampu memberikan
jawaban secara rinci sekaligus mampu memperkaya dan mengembangkan jawaban
tersebut. Dia bisa melengkapi gambar wajah tersebut dengan mata, hidung, bibir,
telinga, leher, rambut sampai aksesoris semisal kalung dan jepit rambut. Makin
detail ornamen atau organ-organ yang digambarkannya, berarti mencirikan ia anak
yang kreatif.
Jadi, anak yang kreatif tak sekadar mengemukakan ide, tapi juga dapat
mengembangkan gagasan yang dilontarkannya
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil uji asumsi pada skor kreativitas yang didapatkan dari T-skor total
Torrance Test of creative Thinnking Figural form B (Cricle Test) menunjukan
besarnya nilai Kolmogrov-Smirnov Z adalah 0,804, sedangkan nilai segnifikasinya
(2-tailend) sebesar 0,538. Nilai segnifikasi yang lebih besar dari 0,05
menunjukan bahwa skor kreativitas beristrubusi data normal.
Pengujian hipotesis dalam penelitian
dilakukan dengan menggunakan Independent Sample t test. Hasil analisis data
pada Torrance tests of creative Thinking figural Form B (Circle test)
menunjukan nilai t sebesar 4,568 dan nilai probalitasnya (sig.2-tailed) sebesar
0,00. Hal ini menunjukan bahwa ada perbedaan tingkat kreativitas antara anak
pendidikan formal dengan anak homeschooling (M = 227,1486) yang lebih besar
daripada rata-rata T-Skor total hasil Circle test pada anak-anak pendidikan
formal(M = 185,0683) menunjukan bahwa anak-anak homeschooling mempunyai tingkat
kreativitas lebih tinggi dari pada anak-anak pada pendidikan formal.
Penelitian ini berusaha membuktikan
apakah ada perbedaan tingkat kreativitas antara anak pendidiakn formal dengan
anak homeschooling. Stlah dilakukan analisis data terenyata hasilnya
menunjukkan bahwa hipotesis terbukti dan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan
tingkat kreativitas antara anak pendidikan formal dengan anak homeschooling.
Anak-anak homeschooling lebih kreatif dari pada anak-anak pad penfifikan formal.
Homeschooling yang mana keluarga
memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas anak-anaknya terbukti memang dapat
membentuk kreativitas anak. Selaras dengan tujuannya agar setiap potensi anak
yang unik dapat berkembang secara maksimal, maka kurikulum yang ada di
homeschooling disesuai dengan kebutuhan anak-anak tanpa harus mengikuti standar
waktu yang ditetapkan sekolah sehingga anak dapat lebih santai dan tidak merasa
tepaksa ketika belajar, homeschooling juga membekali anak dengan keterampilan
khusus yang seusai dengan keinginan dan kebutuhan di masyarakat serta
memberikan pelajaran langsung secara kontekstual,tematik,, ataupun
nonscholastik diamna tidak tersekat oleh batasan ilmu. Disamping itu,
homeschooling juga memberikan lingkungan social dan suasana belajar yang baik,
nyaman dan menyenangkan bagi anak sehingga anak-anak lebih merasa bebas untuk
bereksplorasi dan hal inilah yang dapat membentuk kreativitas anak, karena
seperti yang diungkapkan Hurlock(1978) bahwa untuk menjadi kreatif, kegiatan anakseharusnya
jangan diatur sedemikian rupa sehingga hanya sedikit waktu bebas bagi mereka
untuk bermain-main dengan gagasan-gagasan dan konsep-konsep dan mencobanya
dalam bentuk baru dan orisinal. Ini berbeda dengan sekolah formalyang mana
pengalaman di lapangan menunjukan bahwasanya banyak anak mendapatkan pengalaman
kurang menyenangkan selama di sekolah formal. Sebut saja, kasus
Bullying,bentakan dan kekerasan dari guru bahkan pemasungan kreativitas anak.
Kemudian, upaya penyeragaman kemampuan dan keterampilan semua anak untuk
seluruh bidang turut mematiakan minat dan bakat anak tentunya berbeda-beda,
karena setiap anak adalah unik. Lebih jauh lagi, kurikulum yang terlalu padat
dan tugas-tugas rumah yang menumpuk membuat kegiatan beljar menjadi suatu beban
bagi sebagian anak pendidikan formal lebih rendah dari anak homeschooling.
Model
homeschooling dalam penelitian ini adalah komonitas yaitu gabungan beberapa
homeschooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar,
kegiatan pokok(olah raga,music/seni dan bahasa), sarana/prasarana dan jadwal
pembelajaran. Ada komitmen penyelenggaraan pembelajaran antara orang tua dan
komonitasnya. Maka dari itu meskipun disebut sekolah rumah namun
program-programnya lebih terstuktur dan pebelajaran tifak selalu di rumah.
Peserta didik juga akan mendapatkan ijazah yang sama nilainya dengan ijazah
sekolah formal jika dapat lulus ujian persamaan yang dilakukan oleh Dipdiknas.
Bahkan kelemahan homeschooling yang ditakutkan masyarakat bahwa anak-anak
homeschooling akan mengalami kesulitan dalam penyeuian sosial tidak berlaku
disini, karena untuk homeschooling group atau komonitas ini terdiri dari
beberapa anak yang belajar bersama-sama dalam satu ttingkat.
Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Astrid Klara (2008) mengenai
gambaran penyesuai Sosial anak usia6-12 Tahun yang mengikuti homeschooling yang
menyatakan bahwa tidak ditemukan adanya kesulitan penyesuai sosial pada anak
yang mengikuti homeschooling dengan teman sebaya, hal ini dikarenakan keterlibatan orang tua dalam proses belajar
dan sejumlah aktivitas homeschooling yang mampu memfasilitas kebutuhan mereka
dalam berinteraksi dengan teman sebaya. Aktivitas yang dilakukan oleh anak-anak
sekolah rumah di samping melatih mereka untuk berinteraksi juga dapat meningkatkan
kreativitas anak. Aktivitas seperti karya wisata ketempat bersejarah, pabrik
atau tempat lainnya yang cocok untuk
aplikasi proses pembelajaran yang lebih nyata, karena anak dapat melihat bentuk
sebenarnyadari mereka pelajari dan dari sini akan timbul ide-ide kreatif.
Kemudian bermain bersama, berkebun, membentuk klub berdasarkan kesamaan hobi
seperti olahraga, seni, membaca buku dan sebagainya untuk melakukan kegiatan
bersama-sama.
Dari beberapa aktivitas ini akan mengoptimalkan potensi anak sehingga
terbentuklah kreativitas anak homeschooling memang membutuhkan komitmen dan
tanggung jawab yang tinggi dari orang tua. Orang tua harus selalu memonitor
kemajuan anak dalam belajar. Dorongan inilah yang diperlukan anak untuk menjadi
kreatif dan bebas dari ejekan dan kritik yang sering kali dilontarkan pada anak
yang keatif (Hurlock, 1978) menurut Promadi(2007), salah satu alasan orangtua
memilih homeschooling adalh karena sekolah formal hanya berorientasi pad nilai
rapor (kepentingan sekolah), bukanya mengedepankan keterampailan hidup dan
sosial (nilai-nilai imam dan moral). Di sekoalah banyak muridmengejar nilai
rapor dengan mencontek atau membeli ijaza pals.selain itu, perhatianpendidik
secara personalpada anak dinilai kurang. Ditambah lagi, identitas anak
distigmatisasi dan di tentukan oleh teman-temannya yang lebih pintar dan lebih
unggul atau lebih “cerdas”.
Keadaan demikian menambah suasana sekolah menjadi tidak menyenangkan.
Maka dari itu kreativitas anak dapat menjadi berkembang di homeschooling
dibandingkan sekolah formal. Hal ini juga di perkuat oleh penelitian dari
Jellen dan Urban yang dikutip Munandar, (2002) yang menggunakan TCT-DP untuk
mengukur kreativitas dengan mengambil sempel anak-anak Sekolah Dasar dari
delapan Negara termasuk Indonesia. Ternyata dari hasil penelitian Jelllendan
Urban, anak Indonesia mencapai skor kreativitas yang paling rendah dibandingkan
dengan Negara-negara lain, seperti Filipina,India dan Afrika Selatan.
Penelitian dari Jelen dan Urban
(Munandar, 2002) diatas meemang dapat menjadi pemikiran untuk memperbaiki
sistem dan kurikulum yang sekarang ada pada sekolah fomal agar dapat
mengembangkan kreativitas anak didik dan bukan malah mengembangkan konformitas
selama tahun-tahun si sekolah dasar.
Hasil kategorisaridari skor Torance test of creative thinking dalam
penelitian ini juga menunjukan hal yang sama, bahwa sebagian besar subjek yang
berasal dari sekolah dasar formal memiliki tingkat krativitas pad kategori
rendah yaitu 42%. Sementara itu, kategori sangat tinggi sebesar 6% untuk skor
keativitas
Kreativitas memeng penting dipupuk
sejak uia dini karena dapat menunjang kesuksesan dan kebahagian hidup
seseorang. Banyak factor yang dapat mempengaruhi perkembangan kreativitas
anak-anak,seperti yang telah di jelaskan dalam bab sebelumnya. Namun dari itu
semua, menurit Strenberg(1999), faktor kultur juga dapat menunjang atau dapat
menghambat kreativitas anak. Bachtiar(dalam munandar, 2002) mengatakan bahwa
tradisi budaya yang kuat yang menuntun semua anggota masyarakat yang hendak menciptakan sesuatu yang baru
Dalam penelitian ini faktor tersebut juga diduga ikut mempengaruhi hasil
penelitian . banyak dari orang tua konservatif dangat taat pada pola sosial
yang berlaku (sriwijaya post, 28 0ktober 2003). Selam ini, anak dianggap baik
dan pandai kalau penurut, patuh, manis, dan mau berbuat sesuatu yang dikatakan
oleh orang tua atau siapapun yang lebih tua. Anak akan dianggap perusak, kalau
dia suka memberontak dan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan
orang tua(Suara Pembaharua, 13 januari 2006). Padahal anak kreatif suka
mencoba-coba dan menyenangi hal-hal baru, yang biasanya menyimpang dari pola
sosial yang berlaku. Menurut Mulyadi tanpa disadari, orang tua yang bermaksud
baik dengan dalih menanamkan disiplin dan kepatuhan kepada anak, tidak memberi
kesempatan bagi pertumbuhan benih-benih kreativitas. Seharusnya disadari bahwa
kreativitas tidak bertentangan dengan disiplin. Hidup dalam masyarakat memang
menurut anggotanya untuk menaati aturan-aturan yang disepakati.Namun sebaiknya
orangtua mempertimbangkan terlebih dahulu sejauh man peraturan peraturan yang
perlu diterapkan dan sejauh mana bias berlakukan scara fleksibel. Di sisi lain,
kedisilinan dan kepatuhan hendaknya diterapkan sedemikian rupa sehingga tetap
memberi kesemptan kepada ank untuk menjajaki lingkungannya, mengembangkan
minat-minatnya, danmenggunakan kreativitasnya, maka maka dari itu di perlukan
adanya jembatan komonikasi yang baik antara orang tua dan tutor agar mereka
memiliki kesepakatan mengenai penerapanpendidikan yang paling tepa bagi anak.
Hal ini berpengaruh baik pada anak yang menempuh pendidikan formal ataupun anak
homeschooling karena sekali lagi peran orangtua sangat besar dalam pembentukan
kreativitas anak.
Ada kemungkinan, perbedaan jenis
klemin juga dapat berpengaruh terhadap perkembangan kreativitas anak. Menurut
Hurlock(1978), perlakuan yang berbeda dari masyarakat terhadap jenis kelamin
yang berbeda pengaruh terhadap perkembangn kreativitas. Kultur yang lebih
memberi kesempatan kepada anak laki-laki untuk mandiri, didesak teman sebaya
untuk lebih berani bertindak dan didorong oleh orang tua dan guru untuk lebih
menunjukkan orisinalitas dan inisiatif akan membuat anak laki-laki cenderung
memiliki kreativitas lebih besar. Penelitian mencoba untuk membandingkan skor
kreativitas pada anka laki-laki dan anak perempuan. Hasilnya, ditemukan adanya
perbedaan kreativitas antara subjek laki-laki dan perempuan dari hasil T-skor Torrance Test of Creative Thinking Figural dengan
t-2,93 dan segenifikasinya (2-tailed) sebesar 0,007, dimana di lihat dari
besarnya rata-rata skor kreativitas diketahui bahwa anak perempuan lebih
kreatif dari anak laki-laki (213,46 > 183,66) hal ini kemunkinan dipengaruhi
oleh variasi kultur yang mana pola pengasuhan orang tua dan para pendidik tidak
lagi menerapkan peran seks tradisional namun sudah menerapkan kesetaraan gender
Di samping faktor-faktor di atas
yang mempengaruhi hasil penelitian, adanya faktor lain yang kemungkinan juga
dapat mempengaruhi hasil penelitian
yaitu alat tes pada Torrance Test of
Creative Thinking Figural yang mungkin masih baru bagi subjek dan
kemungkinan ada beberapa subjek yang kurang memahami instruksi sehingga tidak
semua subjek mengerjakan subjek secara maksimal. Kondisi subjek saat
mengerjakan tes juga dapat mempengaruhi skor krativitas seprti suasana hati,
kondisi kesehatan dan kurang motivasiuntuk mengrjakan secara maksimal.
Dari semua penjelasan diatas dapat
diketahui bahwa sebenarnya banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi
perkembangan kreativitas anak yang belum terungkap oleh peneliti, namun yang
jelas dari hasil penelitian in adalah bahwa terbukti ada perbedaan antara
tingkat kreativitas anak pendidikan formal dengan homeschooling.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar