Jumat, 13 Desember 2013



PENDAHULUAN
Ditinjau dari aspek kehidupan manapun, kebutuhan akan kreativitas sangatlah penting. Menurut Safaria ( 2005 ) (Wijayanti, 2010) ada beberapa alasan mengapa kreativitas perlu dipupuk sejak dini. Pertama, proses kreatif merupakan perwujudan dari aktualisasi diri. Kedua,kreativitas adalah kemampuan untuk menemukan cara-cara baru dalam dalam memecahkan masalah. Ketiga,menyibukan diri dalam proses kreatif, bermanfaat bagi masyarakat dan juga bagi anak. Karena dari kegiatan kreatif anak akan mendapatkan kepuasan yang tinggi, sehingga hal ini akan meningkatkan makna dankebahagiaan hidup anak. Keempat, kreativitas menjadikan peradaban  manusia berkembang dengan pesat.
Faktor lingkungan seperti keluarga dan sekolah dapat berpungsi sebgai pendorong dalam pengembangan kreativitas anak ( Munandar,2002 ) (Wijayanti, 2010) sehingga peran orangtua dan pendidik sangat penting dalam memberikan dorongan dan tutunan bagi anak. Namun menurut Mulyadi yang menjadi orientasi pendidikan saat ini, adalah bagaimana menciptakan anak yang cerdas secara logika,matematika, dan bahasa. Pada hal hasil penelitian Goleman mengungkapkan bahwa orang yang sukses belum tentu yang Iqnya tinggi. Alasanya adalah IQ hanyalah sebagian kecil dari potensi manusia. Faktor lain seperti kecerdasan emosi, kecerdasan moral, dan kecerdasan menghadapi kenyataan, juga berpengaruh besar (dalam suara pembaharuan, 13, januari 2006 )
Imajinasi yang aktif adalah inti dari pemikiran yang kreatif. Kerangaka pemikiran ini penting untuk terbukanya kemungkinan menjadi kreatif. Tetapi perkembangan masyarakat kita mengharuskan anak-anak tumbuh dan berkembang seperti orang lain (presbury, 1990) (Wijayanti, 2010). Ini diperkuata oleh penelitian moran (1988) yang menunjukan bahwa melalui proses sosial, anak-anak berkembang kearah komformitasselama tahun-tahun sekolah dasar. Persentase respon original pada ide-ide kelancaran tugas menurun sebesar 50 persenpada usia 5 tahun 25 persen selama disekolah dasar kemudian kembali meningkat 50 persen di perguruan tinggi. Hal ini keminan besar yang menjadi alasan, kreativitas anak indonesia kurang berkembang dengan baik.kenyataan tersebut juga dibuktikan dengan hasil penelitiandari Jellen dan Urban yang dikutip Munandar, (2002) yang menggunakan TCT-DP untuk mengukur kreativitas dengan mengambil sempel anak-anak sekolah dasar dari delapan negara termasuk indonesia. Ternyata dari hasil penelitian jellen dan urban, anak indonesia mencapai skor kreativitas paling rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Seperti filipina,india, dan afrika selatan. Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dengan lingkun ganya (munandar, 2002) (Wijayanti, 2010), Seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimna dia berada, dengan demikian baik perubah didalam individu maupun didalam lingkungan dapat menun jang atau dapat menghambat upaya kreatif. Implikasinya adalah bahwa kemampuan kreatif dapat ditingkatkan melalui pendidikan.
Model pendidikan yang paling terkenal dan diakui masyarakat adalah sistem sekolah atau pendidikan formal baik yang diselenggarakan pemerintah ataupun swasta. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang tersetruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidkan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikaan menegah, dan pendidkan tinggi.

A.     Kreativitas
Menurut rodes (dalam munandar,2002) (Wijayanti, 2010), kreativitas dapat dirumuskan dalam istilah pribadi, proses, pendorong dan produk. Drevdahl (dalam harlock, 1978) (Wijayanti, 2010) mendefiniskan kretifitas sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal pembuatannya. Hasil kreativitas, di samping di pengaruhi oleh kemampuan kognitif juga dipengaruhi oleh beberapa faktor sikap, motivasi, dan tempramen.
Berdasarkan difinisi-deefinisi di atas dapat disimpulkan  bahwa krestivitas merupakan pembentkan dari kemampuan kognitif yang terdiri dari kelancaran berfikir (fluency), keuwesan berfikir (flexibility), elaborasi pemikiran (elaboration) dan kualitas afektif dari terbuka terhadap pengalaman baru, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tidak takut melakukan kesalahan ketika mengemukakan ide, imajinatif, dan berani mengambil resiko terhadap langkah-langkah yang diambil.

B.     Pendidikan Formal
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini. Pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

C.     Homeschooling
Homeschooling yang dalam bahasa indonesia digunakan istilah sekolah rumah adalah model alternatif belajar selain sekolah. Menurut direktur pendidikan kesetaraan departemen pendidikan nasional (Depdiknas), homeschooling adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua atau keluarga di mana proses belajar mengajar berlangsung dalam susasana yang kogitif.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat di simpulkan bahwa homeschooling adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua atau keluarga dimana proses mengajar berlangsung dalam susasana yang kondusif. Tujuannya agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal. Mayoritas homeschooling (71%) memiliki sendiri materi pelajaran dan kurikulum dari yang tersdia, kemudian melakukan penyesusaian agar sesuai dengan kebutuhan anak-anak keadaan keluarga dan persyaratan dari pemerintah. Selain itu, 24% diantaranya menggunakan paket kurikulum lengkap yang dibeli dari lembaga penyedia kurikulam dan materi ajar. Sekitar 3% menggunakan materi dari sekolah satelit (partner homeschooling) atau program khasus yang dijalankan oleh sekolah swasta setempat.

D.     Jenis-jenis Homeschooling
Nadhirin (2008) berpendapat sebagai berikut.
Metode homeschooling ada tiga jenis. Pertama, homeschooling tunggal, kemudian homeschooling majemuk yang terdiri dari dua keluarga, dan yang terakhir homeschooling komunitas.
1. Homeschooling tunggal adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh orang tua dalam suatu keluarga tanpa bergabung dengan lainnya. Dalam hal ini orang tua terjun langsung sebagai guru menangani proses belajar anaknya, jika pun ada guru yang didatangkan secara privat hanya akan membimbing dan mengarahkan minat anak dalam mata pelajaran yang disukainya. Guru tersebut bisa berasal dari lembaga-lembaga yang khusus menyelengarakan program homeschooling, contonya adalah lembaga Asah Pena asuhan Kak Seto. Lembaga ini mempunyai tim yang namanya Badan Tutorial yang terdiri dari lulusan berbagai jenis profesi pendidikan.
2. Homeschooling majemuk adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua masing-masing.
3. Sementara homeschooling komunitas adalah gabungan beberapa homeschooling majemuk yang menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olah raga, seni dan bahasa), sarana/prasarana dan jadwal pembelelajaran. Dalam hal ini beberapa keluarga memberikan kepercayaan kepada Badan Tutorial untuk memberi materi pelajaran. Badan tutorial melakukan kunjungannya ke tempat yang disediakan komunitas.

E.     Prosedur Untuk Memulai Homeschoolinng
1.   Datang ke Dinas Pendidikan setempat di kabupaten atau kota Anda, di bagian Kasubdin Bidang Pendidikan Luar Sekolah.
2.    Membuat surat pernyataan dari kedua orangtua bahwa orangtua siap dan bertanggungjawab untuk melaksanakan pendidikan anak-anak di rumah, sesuai aturan pemerintah tentang wajib belajar bagi anak-anak Indonesia.
3.    Jika peserta didik berusia di atas 13 tahun dan masuk ke jenjang sekolah menengah, ia perlu melampirkan surat pernyataan kesiapan dan kesediaan mengikuti sistem belajar Homeschooling.
4.    Melampirkan fotokopi rapor atau ijazah terakhir jika sebelumnya pernah mengikuti pendidikan formal. Dan juga melampirkan surat pengunduran diri dari sekolah.
5.    Mencantumkan format sekolah rumah yang akan dilaksanakan, jadwal belajar, kegiatan atau program yang diselenggarakan, juga kurikulum yang dipakai.
6.    Izin badan hukum dari yayasan atau lembaga jika mendirikan homeschooling majemuk/kelompok. Untuk homeschooling majemuk ini minimal terdiri dari  5 keluarga dan maksimum 10 keluarga.
7.    Meminta kurikulum dari Dinas Pendidikan untuk setiap tingkat kesetaraan.

F.      Kelebihan Dan Kekurangan Homeshcooling
Berikut beberapa kelebihan serta kekurangan dari metode belajar di rumah, seperti dikutip dari Parenting.
Kelebihan:
1. Waktu yang lebih fleksibel
Metode bersekolah di rumah memberikan kelonggaran waktu bagi anak-anak. Mereka bisa menentukan waktu belajar mereka sendiri.
2. Sosialisasi
Metode bersekolah di rumah membuat anak Anda tak hanya bersosialisasi dengan teman sepermainan dengan umur yang sama, namun juga dengan orang-orang yang jauh lebih tua dari mereka (para staf pengajar).
3. Belajar setiap saat
Saat anak Anda sakit, atau kurang enak badan, ia tetap dapat belajar di rumah.
4. Kurikulum lebih terfokus
Anak bisa langsung memilih kurikulum yang ia minati saja, dan tidak perlu mempelajari segala sesuatu yang sifatnya terlalu umum.
5. Bebas dari ancaman teman
Seringkali anak-anak merasakan tekanan dari teman sebayanya yang membuatnya trauma dan ketakutan. Sekolah di rumah membuat anak Anda terbebas dari hal tersebut.

Kekurangan:
1. Kurang pengajaran disiplin
Terlalu fleksibel bisa menjadi bumerang bagi anak Anda. Tak adanya waktu yang jelas saat menjalankan pendidikan bisa membuat disiplin anak-anak berkurang.
2. Minimnya kompetisi
Home schooling mengurangi kesempatan anak untuk berkompetisi secara sehat dengan teman sebayanya dalam bidang apapun. Padahal kompetisi akan membangkitkan semangatnya untuk lebih maju.
3. Belum ada standardisasi kurikulum
Karena home schooling termasuk metode pengajaran yang masih jarang, maka belum ada standar kurikulum yang jelas di Indonesia.
4. Sosialisasi
Anak-anak juga perlu bersosialisasi dengan teman sebayanya. Anda memang tidak bisa melindunginya setiap saat tekanan anak-anak lain. Namun hal itu juga bisa membuatnya menjadi semakin berani, dan belajar menghadapi segala masalah.
5. Keuangan
Sekolah di rumah biasanya membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dari sekolah umum. Sebelum memutuskan memilih metode ini, Anda harus memastikan dulu kondisi keuangan Anda.

G.    Persamaan dan Perbedaan Homeschooling dengan Sekolah pada Umumnya
Homeschooling dan sekolah pada umumnya memiliki beberapa kesamaan. Beberapa kesamaan itu antara lain adalah sama-sama sebuah sarana pendidikan yang bertujuan untuk mendidik anak, homeschooling dan sekolah pada umumnya sama-sama sebuah media pembelajaran, homeschooling dan sekolah pada umumnya sama-sama mengantarkan anak pada tujuan pendidikan yang ingin dicapainya.
Selain itu homeschooling dan sekolah-sekolah umum juga memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut antara lain adalah:
-          Apabila sistem yang ada disekolah cenderung memiliki standar-standar tertentu sedangkan pada homeschooling cenderung disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi keluarga tersebut.
-          Di sekolah umum  lebih berpedoman pada kurikulum, namun homeschooling tidak berpedoman pada kurikulum, melainkan lebih disesuaikan denan kondisi keluarga yang ada.
-          Jadwal belajar di sekolah telah ditentukan dan sudah mutlak, namun jadwal belajar homeschooling adalah fleksibel. Jadwal belajar homeschooling dapat diatur sesuai dengan kesepakatan anak dan orang tua maupun pembina homeschooling.
-          Pada sekolah umum, guru memiliki tanggung jawab atas peserta didik. Para orang tua memberikan kepercayaan kepada guru pembina. Sedangkan pada homeschooling orang tua bertanggungajawab sepenuhnya atas anak. Orang tua harus selalu berpartisipasi dalam pendidikan anak.
-          Pada sekolah, peran orang tua dalam membimbing anak cemderung tidak maksimal, karena pendidikan sekolah dijalankan oleh sistem dan guru. Sedangkan pada homeschooling peran orang tua sangat penting, karena peran orang tua juga sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak.

H.         Teori Kecerdasan Ganda / multiple intelegency theory
1.    Pengertian Teori Kecerdasan Ganda
Teori Kecerdasan Ganda (Multiple Inteligence) yang dikemukakan oleh Howard Gardner – seorang professor psikologi dari Harvard University – akan dijadikan acuan untuk lebih memahami bakat dan kecerdasan individu.
Kecerdasan merupakan potensi yang dimiliki seseorang yang dapat diaktifkan melalui proses belajar, interaksi dengan keluarga, guru, teman dan nilai-nilai budaya yang berkembang. Kecerdasan mengandung dua aspek pokok yaitu; kemampuan belajar dari pengalaman dan beradaptasi terhadap lingkungan.
2.    Macam-macam kecerdasan Ganda
Gardner (1983) berhasil mengidentifikasi tujuh macam kecerdasan, yang kemudian dikenal sebagai kecerdasan ganda (Multiple Intelligence) atau biasa disingkat dengan MI. Ketujuh jenis kecerdasan tersebut adalah musical/rhythmic intelligence bodily/kinesthetic intelligence, logical/mathematical intelligence, visual/spatial intelligence, verbal/linguistic intelligence, interpersonal intelligence, dan  intrapersonal intelligence (dalam perkembangannya ditambah satu jenis kecerdasan sehingga menjadi delapan, yakni naturalistic intelligence).
Setiap individu memiliki potensi yang unik yang harus dikembangkan menjadi kompetensi. Pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengembangkan potensi individu menjadi kompetensi. Manusia, pada dasarnya,  memiliki beberapa jenis kecerdasan yang menonjol. Howard Gardner, seorang pakar psikologi dari Harvard University, mengemukakan delapan jenis kecerdasan yang meliputi kecerdasan:
JENIS KECERDASAN
KECENDERUNGAN /
KEGEMARAN
METODE BELAJAR
Bahasa / Verbal
Gemar :
-          membaca
-          Menulis
-          Bercerita
-          Bermain kata
Membaca, menulis, mendengar
Matematis Logis
Gemar :
-          bereksperimen
-          tanya jawab
-          menjawawab teka-teki
logis
Berhitung, aplikasi rumus, eksperimen
Spasial
Gemar :
-          Mendesain
-          Menggambar
-          Berimajinasi
-          Membuat sketsa
Observasi, menggambar, mewarnai, membuat peta
Kinestetik tubuh
Gemar :
-          menari
-          berlari
-          melompat
-          meraba
-          memberi isyarat
Membangun, mempraktekan. menari, ekspresi
Musikal
Gemar :
-          bernyanyi
-          bersiul
-          bersenandung
Menyanyi, menghayati lagu, mamainkan instrumen musik
Interpersonal
Gemar :
-          memimpin
-          berorganisasi
Observasi alam dan mengidentifikasi karakteristik flora dan fauna







I.        Hubungan antara Kreativitas dengan Pendidikan Formal dan Homeschooling
Setiap anak dilahirkan memiliki potensi kreatif. Hal ini terlihat pada waktu anak berusia satu sampai dua tahun. Pada masa-masa kritis tersebut potensi kreatif anak yang mulai tumbuh dan berkembang seringkali menjadi terhambat karena faktor-faktor tertentu, seperti larangan-larangan orangtua terhadap aktivitas anak sehingga anak tidak memiliki Kebebasan untuk bereksplorasi. Akibat negatifdari larangan-larangan yang ditegaskan orangtua membuat anak menjadi takut, tidak percaya diri, menjadi anak yang pasif, pemalu dan merasa tidak mampu. Pada masa-masa perkembang yang keritis ini sangat penting sekali bagi anak untuk memperoleh dukkungan dan dorongan dalam mengembangkan kereativitas-nya. Menurut huriock (1995), perkembangan kreativitas sangat dipengaruh oleh dorongan dari lingkungan, sarana yang mendukung perkembangan kreativitas anak, lingkungan yang merangsang, dan kesempatan untuk memperoleh  pengetahuan. Kesemua hal tersebut kemungkinan besar dapat diperoleh anak saat mereka mulai bersekolah, disamping lingkungan keluarga juga ikut berperang dalam mengembangkan kreativitas anak.
Kreativitas sangat penting untuk dikembangkan dan diajarkan sejak dini, karena jika anak memiliki kreativitas yang tinggi maka diharapkan anak akan mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya secara efektif dan efesien. Akibatnya ,anak memiliki kemungkinan lebih besar untuk sukses di masa depanya. Kereativitas anak-anak biasanya akan lebih berkembang ketika bersekolah, karena sekolah tempat anak-anak untuk belajer bersosialisasi deng orang lain dan belajar keterapilan-keterampilan yang tidak didapati anak ketika mereka di rumah.
Pormadi (2007) mengemuakan kelebihan homeschooling adalah susuai dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga; lebih memberikan peluang kemandirian dan kretivitas individu yang tidak didapatkan di sekolah umum; dapat memaksimalkan potensi anak, tanpa harus  mengikuti standar waktu yang ditetapkan sekolah, homeschooling juga mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain, membutuhkan komitmen dan tanggung jawab yang tinggi dari orang tua. Dari uraian di atas dapat disimpulkan  bahwa pendidikan formal dan homeschooling mempunyai pengaruh yang besar dalam meningkatkan kretivitas anak.

J.       Hipotesis
Ada perbedaan tingkat kreativitas antara anak yang menempuh pendidikan formal dengan anak yang menempuh pendidikan homeschooling.

METODE PENELITIAN
            Penelitian ini dilakukan dengan mengambil subjek 31 anak Sekolah Dasar yang berusia sekitar 9 tahun sampai 11 tahun. Subjek penelitian diambil dari 20 siswa SD Demakijo II kelas IV dan 11 siswa SD Homeschooling Group Khoirul Ummah 7 yang terdiri dari 7 siswa kelas III dan 4 siswa kelas IV.
            Metode yang digunakan untuk mengukur kreativitas dalam penelitian ini adalah Torrance Test of Creative Thinking Figural Form B yang mana dibagi mrnjadi tiga aktivitas, yaitu: Picture Construcstion, Picture Completion dan Circle. Namun dari ketiga macam tes Circle saja yang digunakan untuk mengukur kreativitas anak. Circle tes mempunyai 36 lingkaran yang berdiameter 2cm yang berfungsi sebagai stimulasi. Dalam ini subjek diminta membuat beberapa gambar dengan menggunakan lingkaran sebagai stimulus.
Penelitian ini menggunakan menggunakan metode statistik independent sample t tests untuk menganalisis data, karena tujuan dari penelitian ini adlah membandingkan rata-rata dari dua sempel yang tidak berhubungan satu dengan yang lainnya, yaitu membandimgkan kreativitas antara anal yang mengampu pendidikan formal dengan anak yang mengampu pendidikn homeschooling.

CIRCLE TEST : Tes kreatif figural (tes lingkaran)
Tes kreatif figural merupakan adaptasi dari circle test. Tes kreatif figural adalah: tes yang mengukur aspek fleksibelitas, orsinalitas dan elaborasi dari kemampuan berfikir kreatif.
Aspek fleksibelitas maksudnya adalah; Anak mampu memberikan jawaban yang berbeda-beda. Untuk gambar lingkaran, contohnya, anak mengasosiasikannya sebagai piring, bulan, bola, telur dadar dan sebagainya. Anak juga diminta untuk membuat sebanyak mungkin objek mati maupun hidup pada gambar lingkaran tadi.. Namun, tes kreativitas ini bukan dimaksudkan sebagai tes menggambar, melainkan sebagai tes gagasan, sehingga unsur "keindahan" tidak diprioritaskan.
Sementara itu aspek orsinalitas maksudnya adalah: Anak mampu memberikan jawaban yang jarang/langka dan berbeda dengan jawaban anak lain pada umumnya. Dari bentuk lingkaran yang sama, contohnya, anak mahir menggambarkannya sebagai wajah orang.
Selain itu, aspek elaborasi maksudnya yaitu: Anak mampu memberikan jawaban secara rinci sekaligus mampu memperkaya dan mengembangkan jawaban tersebut. Dia bisa melengkapi gambar wajah tersebut dengan mata, hidung, bibir, telinga, leher, rambut sampai aksesoris semisal kalung dan jepit rambut. Makin detail ornamen atau organ-organ yang digambarkannya, berarti mencirikan ia anak yang kreatif.
Jadi, anak yang kreatif tak sekadar mengemukakan ide, tapi juga dapat mengembangkan gagasan yang dilontarkannya


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil uji asumsi pada skor kreativitas yang didapatkan dari T-skor total Torrance Test of creative Thinnking Figural form B (Cricle Test) menunjukan besarnya nilai Kolmogrov-Smirnov Z adalah 0,804, sedangkan nilai segnifikasinya (2-tailend) sebesar 0,538. Nilai segnifikasi yang lebih besar dari 0,05 menunjukan bahwa skor kreativitas beristrubusi data normal.
            Pengujian hipotesis dalam penelitian dilakukan dengan menggunakan Independent Sample t test. Hasil analisis data pada Torrance tests of creative Thinking figural Form B (Circle test) menunjukan nilai t sebesar 4,568 dan nilai probalitasnya (sig.2-tailed) sebesar 0,00. Hal ini menunjukan bahwa ada perbedaan tingkat kreativitas antara anak pendidikan formal dengan anak homeschooling (M = 227,1486) yang lebih besar daripada rata-rata T-Skor total hasil Circle test pada anak-anak pendidikan formal(M = 185,0683) menunjukan bahwa anak-anak homeschooling mempunyai tingkat kreativitas lebih tinggi dari pada anak-anak pada pendidikan formal.
            Penelitian ini berusaha membuktikan apakah ada perbedaan tingkat kreativitas antara anak pendidiakn formal dengan anak homeschooling. Stlah dilakukan analisis data terenyata hasilnya menunjukkan bahwa hipotesis terbukti dan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan tingkat kreativitas antara anak pendidikan formal dengan anak homeschooling. Anak-anak homeschooling lebih kreatif dari pada anak-anak pad penfifikan formal.
            Homeschooling yang mana keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas anak-anaknya terbukti memang dapat membentuk kreativitas anak. Selaras dengan tujuannya agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal, maka kurikulum yang ada di homeschooling disesuai dengan kebutuhan anak-anak tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan sekolah sehingga anak dapat lebih santai dan tidak merasa tepaksa ketika belajar, homeschooling juga membekali anak dengan keterampilan khusus yang seusai dengan keinginan dan kebutuhan di masyarakat serta memberikan pelajaran langsung secara kontekstual,tematik,, ataupun nonscholastik diamna tidak tersekat oleh batasan ilmu. Disamping itu, homeschooling juga memberikan lingkungan social dan suasana belajar yang baik, nyaman dan menyenangkan bagi anak sehingga anak-anak lebih merasa bebas untuk bereksplorasi dan hal inilah yang dapat membentuk kreativitas anak, karena seperti yang diungkapkan Hurlock(1978) bahwa untuk menjadi kreatif, kegiatan anakseharusnya jangan diatur sedemikian rupa sehingga hanya sedikit waktu bebas bagi mereka untuk bermain-main dengan gagasan-gagasan dan konsep-konsep dan mencobanya dalam bentuk baru dan orisinal. Ini berbeda dengan sekolah formalyang mana pengalaman di lapangan menunjukan bahwasanya banyak anak mendapatkan pengalaman kurang menyenangkan selama di sekolah formal. Sebut saja, kasus Bullying,bentakan dan kekerasan dari guru bahkan pemasungan kreativitas anak. Kemudian, upaya penyeragaman kemampuan dan keterampilan semua anak untuk seluruh bidang turut mematiakan minat dan bakat anak tentunya berbeda-beda, karena setiap anak adalah unik. Lebih jauh lagi, kurikulum yang terlalu padat dan tugas-tugas rumah yang menumpuk membuat kegiatan beljar menjadi suatu beban bagi sebagian anak pendidikan formal lebih rendah dari anak homeschooling.
            Model homeschooling dalam penelitian ini adalah komonitas yaitu gabungan beberapa homeschooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok(olah raga,music/seni dan bahasa), sarana/prasarana dan jadwal pembelajaran. Ada komitmen penyelenggaraan pembelajaran antara orang tua dan komonitasnya. Maka dari itu meskipun disebut sekolah rumah namun program-programnya lebih terstuktur dan pebelajaran tifak selalu di rumah. Peserta didik juga akan mendapatkan ijazah yang sama nilainya dengan ijazah sekolah formal jika dapat lulus ujian persamaan yang dilakukan oleh Dipdiknas. Bahkan kelemahan homeschooling yang ditakutkan masyarakat bahwa anak-anak homeschooling akan mengalami kesulitan dalam penyeuian sosial tidak berlaku disini, karena untuk homeschooling group atau komonitas ini terdiri dari beberapa anak yang belajar bersama-sama dalam satu ttingkat.
Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian Astrid Klara (2008) mengenai gambaran penyesuai Sosial anak usia6-12 Tahun yang mengikuti homeschooling yang menyatakan bahwa tidak ditemukan adanya kesulitan penyesuai sosial pada anak yang mengikuti homeschooling dengan teman sebaya, hal ini dikarenakan  keterlibatan orang tua dalam proses belajar dan sejumlah aktivitas homeschooling yang mampu memfasilitas kebutuhan mereka dalam berinteraksi dengan teman sebaya. Aktivitas yang dilakukan oleh anak-anak sekolah rumah di samping melatih mereka untuk berinteraksi juga dapat meningkatkan kreativitas anak. Aktivitas seperti karya wisata ketempat bersejarah, pabrik atau tempat lainnya  yang cocok untuk aplikasi proses pembelajaran yang lebih nyata, karena anak dapat melihat bentuk sebenarnyadari mereka pelajari dan dari sini akan timbul ide-ide kreatif. Kemudian bermain bersama, berkebun, membentuk klub berdasarkan kesamaan hobi seperti olahraga, seni, membaca buku dan sebagainya untuk melakukan kegiatan bersama-sama.
Dari beberapa aktivitas ini akan mengoptimalkan potensi anak sehingga terbentuklah kreativitas anak homeschooling memang membutuhkan komitmen dan tanggung jawab yang tinggi dari orang tua. Orang tua harus selalu memonitor kemajuan anak dalam belajar. Dorongan inilah yang diperlukan anak untuk menjadi kreatif dan bebas dari ejekan dan kritik yang sering kali dilontarkan pada anak yang keatif (Hurlock, 1978) menurut Promadi(2007), salah satu alasan orangtua memilih homeschooling adalh karena sekolah formal hanya berorientasi pad nilai rapor (kepentingan sekolah), bukanya mengedepankan keterampailan hidup dan sosial (nilai-nilai imam dan moral). Di sekoalah banyak muridmengejar nilai rapor dengan mencontek atau membeli ijaza pals.selain itu, perhatianpendidik secara personalpada anak dinilai kurang. Ditambah lagi, identitas anak distigmatisasi dan di tentukan oleh teman-temannya yang lebih pintar dan lebih unggul atau lebih “cerdas”.
Keadaan demikian menambah suasana sekolah menjadi tidak menyenangkan. Maka dari itu kreativitas anak dapat menjadi berkembang di homeschooling dibandingkan sekolah formal. Hal ini juga di perkuat oleh penelitian dari Jellen dan Urban yang dikutip Munandar, (2002) yang menggunakan TCT-DP untuk mengukur kreativitas dengan mengambil sempel anak-anak Sekolah Dasar dari delapan Negara termasuk Indonesia. Ternyata dari hasil penelitian Jelllendan Urban, anak Indonesia mencapai skor kreativitas yang paling rendah dibandingkan dengan Negara-negara lain, seperti Filipina,India dan Afrika Selatan. Penelitian dari Jelen dan  Urban (Munandar, 2002) diatas meemang dapat menjadi pemikiran untuk memperbaiki sistem dan kurikulum yang sekarang ada pada sekolah fomal agar dapat mengembangkan kreativitas anak didik dan bukan malah mengembangkan konformitas selama tahun-tahun si sekolah dasar.
Hasil kategorisaridari skor Torance test of creative thinking dalam penelitian ini juga menunjukan hal yang sama, bahwa sebagian besar subjek yang berasal dari sekolah dasar formal memiliki tingkat krativitas pad kategori rendah yaitu 42%. Sementara itu, kategori sangat tinggi sebesar 6% untuk skor keativitas


            Kreativitas memeng penting dipupuk sejak uia dini karena dapat menunjang kesuksesan dan kebahagian hidup seseorang. Banyak factor yang dapat mempengaruhi perkembangan kreativitas anak-anak,seperti yang telah di jelaskan dalam bab sebelumnya. Namun dari itu semua, menurit Strenberg(1999), faktor kultur juga dapat menunjang atau dapat menghambat kreativitas anak. Bachtiar(dalam munandar, 2002) mengatakan bahwa tradisi budaya yang kuat yang menuntun semua anggota masyarakat  yang hendak menciptakan sesuatu yang baru Dalam penelitian ini faktor tersebut juga diduga ikut mempengaruhi hasil penelitian . banyak dari orang tua konservatif dangat taat pada pola sosial yang berlaku (sriwijaya post, 28 0ktober 2003). Selam ini, anak dianggap baik dan pandai kalau penurut, patuh, manis, dan mau berbuat sesuatu yang dikatakan oleh orang tua atau siapapun yang lebih tua. Anak akan dianggap perusak, kalau dia suka memberontak dan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua(Suara Pembaharua, 13 januari 2006). Padahal anak kreatif suka mencoba-coba dan menyenangi hal-hal baru, yang biasanya menyimpang dari pola sosial yang berlaku. Menurut Mulyadi tanpa disadari, orang tua yang bermaksud baik dengan dalih menanamkan disiplin dan kepatuhan kepada anak, tidak memberi kesempatan bagi pertumbuhan benih-benih kreativitas. Seharusnya disadari bahwa kreativitas tidak bertentangan dengan disiplin. Hidup dalam masyarakat memang menurut anggotanya untuk menaati aturan-aturan yang disepakati.Namun sebaiknya orangtua mempertimbangkan terlebih dahulu sejauh man peraturan peraturan yang perlu diterapkan dan sejauh mana bias berlakukan scara fleksibel. Di sisi lain, kedisilinan dan kepatuhan hendaknya diterapkan sedemikian rupa sehingga tetap memberi kesemptan kepada ank untuk menjajaki lingkungannya, mengembangkan minat-minatnya, danmenggunakan kreativitasnya, maka maka dari itu di perlukan adanya jembatan komonikasi yang baik antara orang tua dan tutor agar mereka memiliki kesepakatan mengenai penerapanpendidikan yang paling tepa bagi anak. Hal ini berpengaruh baik pada anak yang menempuh pendidikan formal ataupun anak homeschooling karena sekali lagi peran orangtua sangat besar dalam pembentukan kreativitas anak.
            Ada kemungkinan, perbedaan jenis klemin juga dapat berpengaruh terhadap perkembangan kreativitas anak. Menurut Hurlock(1978), perlakuan yang berbeda dari masyarakat terhadap jenis kelamin yang berbeda pengaruh terhadap perkembangn kreativitas. Kultur yang lebih memberi kesempatan kepada anak laki-laki untuk mandiri, didesak teman sebaya untuk lebih berani bertindak dan didorong oleh orang tua dan guru untuk lebih menunjukkan orisinalitas dan inisiatif akan membuat anak laki-laki cenderung memiliki kreativitas lebih besar. Penelitian mencoba untuk membandingkan skor kreativitas pada anka laki-laki dan anak perempuan. Hasilnya, ditemukan adanya perbedaan kreativitas antara subjek laki-laki dan perempuan dari hasil T-skor Torrance Test of Creative Thinking Figural dengan t-2,93 dan segenifikasinya (2-tailed) sebesar 0,007, dimana di lihat dari besarnya rata-rata skor kreativitas diketahui bahwa anak perempuan lebih kreatif dari anak laki-laki (213,46 > 183,66) hal ini kemunkinan dipengaruhi oleh variasi kultur yang mana pola pengasuhan orang tua dan para pendidik tidak lagi menerapkan peran seks tradisional namun sudah menerapkan kesetaraan gender
            Di samping faktor-faktor di atas yang mempengaruhi hasil penelitian, adanya faktor lain yang kemungkinan juga dapat mempengaruhi  hasil penelitian yaitu alat tes pada Torrance Test of Creative Thinking Figural yang mungkin masih baru bagi subjek dan kemungkinan ada beberapa subjek yang kurang memahami instruksi sehingga tidak semua subjek mengerjakan subjek secara maksimal. Kondisi subjek saat mengerjakan tes juga dapat mempengaruhi skor krativitas seprti suasana hati, kondisi kesehatan dan kurang motivasiuntuk mengrjakan secara maksimal.
            Dari semua penjelasan diatas dapat diketahui bahwa sebenarnya banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kreativitas anak yang belum terungkap oleh peneliti, namun yang jelas dari hasil penelitian in adalah bahwa terbukti ada perbedaan antara tingkat kreativitas anak pendidikan formal dengan homeschooling.



          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar