Senin, 30 Desember 2013

BAB 1. Definisi Gangguan Tidur.
Tidur merupakan fungsi biologis yang dalam berbagai hal tetap misterius. Tidur memiliki sifat restorative dan sebagian besar dari kita membutuhkan 7 jam atau lebih untuk tidur di malam hari agar aktivitas di siang hari berjalan dengan baik. Akan tetapi, tidak semua orang mempunyai waktu yang cukup untuk tidur dikarenakan oleh berbagai hal yang antara lain karena factor psikologis, biologis ataupun karena efek pengobatan. Jika keadaan ini terjadi secara terus menerus maka akan menimbulkan berbagai macam gangguan tidur. Gangguan tidur adalah masalah yang berhubungan dengan tidur yang berulang kali dan terus ada yang menyebabkan distress atau hendaya fungsi social, pekerjaan dan berperan lain untuk berfungsi dengan baik.BAB 2. Jenis Gangguan Tidur.
       Ada berbagai macam gangguan tidur yang diakibatkan Karen factor, biologis, psikologis dan efek dari pengobatan. Macam-macam dari gangguan tidur tersebut antara lain     :
1.      Dissomnia
2.      Parasomnia.
Dissomnia adalah gangguan tidur yang memiliki karakteristik terganngunya jumlah, kualitas atau waktu dari tidur. Ada lima macam Dissomnia, yaitu :
a.       Insomnia
Jadi,insomnia adaklah kesulitan berulang untuk tidur atau untuk tetep tidur. Akan tetapi jika insomnia terjadi saat stres, itu tidak termasuk dalam kategori abnormal. Insomnia pun dibagi menjadi dua jenis, antara lain            :
1.a       Insomnia kronis.
            Insomnia kronis yang bertahan selama satu bulan atau lebih merupakan tanda dari masalah fisik atau gangguan psikologis seperti depresi. Jika problem yang ada di balik insomnia ditangani dengan baik, ada kemungkinan untuk memperbaiki pola tidu menjadi normal kembali.
2.a       Insomnia primer.
            Insomnia primer yang tidak disebabkan oleh gangguan psikologis atau fisik lainnya, atau pun oleh efek obat atau pengobatan, dikelompokkan dalam gangguan tidur yang disebut insomnia primer. Orang-orang dengan insomnia primer memiliki gangguan yang terus menerus  untuk tidur , tetap tidur, atau mengelami tidur yang restorative. Remaja yang mengalami gangguan ini biasanya mengeluh membutuhkan waktu yang lama untuk tertidur sedangkan orang tua yang mengalami hal ini labih banyak mengeluh sering terbangun pada malam hari dan ada jaga yang bangun terlalu awal di pagi hari. Factor psikologis memainkan peran penting dalam insomnia primer. Mereka yang mengalami insomnia primer cenderung memebawa kecemasan dan kekhawatiran ke tempat tidur, yang akan meningkatkan kesadaran tubuh meraka sampai pada tahap yang mencegah tidur secara alami.
b.      Hipersomnia.
Hipersomnia berasal dari kata yunani hyper ‘lebih’. Jadi, hipersomnia adalah rasa kantuk yang berlebihan pada siang hariyang berlangsung selama satu bulan atau lebih. Rasa kantuk yang berlebihan sering kali disebut dengan mabuk tidur. Mabuk tidur ini becirirkan sulit bangun setelah periode tidur yang panjang (8-12 jam). Orag yang mempunyai hipersomnia primer memiliki rasa kantuk yang lebih parah dan bertahan lebih lama yang biasanya mengakibatkan kesulitan untuk melekukan fungsi sehari-hari dengan baik.
c.       Narkolepsi.
Narkolepsi berasal dari bahasa Yunani narke ‘tidak sadar’, lepsi ‘serangan’. Sehingga pengertian dari narkolepsi adalah gangguan tidur yang memiliki ciri episode tidur yang tidak dapat dielekan dan terjadi secara tiba-tiba. Orang dengan gangguan ini dapat secara tiba-tiba tidur untuk jangka waktu rata-rata 15 manit tanpa adanya tanda-tanda ingin tidur. Diagnosis diberikan ketika serangan tidur muncul setiap hari selama periode tiga bulan atau lebih dan dikombinasika dengan salah satu dari dua dari kondisi berikut :
1.c       Cataplexy.
            Cataplexy (kehilangan control otot secara mendadak). Cataplexy biasanya diakibatkan oleh reaksi emosional yang kuat, seperti bahagia atau marah. Hal ini dapat berkisar dari rasa lemah yang tak seberapa dikaki sampai benar-benar kehilangan control otot yang dapat mengakibatkan orang tersebut jatuh secara tiba-tiba.
2.c       Gangguan tidur REM (Rapid Eye Movement) atau REM sleep.
            Gangguan ini terjadi dalam tahap transisi antara sadar dan tidur. Tidur REM yangberarti gerakan mata yang cepat adalah tahap tidur yang diasosiasikan dengan bermimpi. Dinamakan bergitu karena mata orang yang sedang tidur cenderung untuk bergerak secara cepat dibawah kelopak mata yang tertutup.
            Serangan narkoleptik dihubungkan dengan transisi yang cepat ke idur REM dari kondisi terjaga. Dalam tidur normal, REM biasanya mengikuto beberapa tahap dari tidur nonREM. Orang dengan serangan narkoleepsi juga dapat mengalami sleep paralysis(kelumpuhan tidur), tahap sesaat yang mengikuti kondisi terjaga dimana seseorang merasa tidak mampu untuk bergerak atau berbicara. Penderita juga melaporkan halusinasi yang menekutkan sesaat sebelum tidur dan cenderung melibatkan sensasi visual, auditori, taktil dan kinestetik (gerakan tubuh) yang disebut dengan ‘hypnagogic hallucinations’. Penyebab dari gangguan ini belum diketahui secara pasti, tetapi diduga dikarenakan hilangnya sel otak dalam hipotalamus yang menghasilkan suatu zat kimia pengatur tidur.
d.      Gangguan Tidur yang Terkait Dengan Pernafasan (breathing-related sleep disorder).
Orang yang mengalami gangguan tidur yang terkait dengan pernafasan
mengalami gangguan untuk tidur secara berulang yang disebabkan oleh masalah pernafasan. Gangguan tidur yang berkala ini mengakibatkan insomnia atau rasa kantuk yang berlebihan diwaktu siang. Tipe yang paling umum terkait gangguan ini adalah obstructive sleep apnea (berasal dari bahasa Yunani ‘a’ tidak dan ‘pneuma’ nafas) yang melibatkan episode berulang dari gangguan nafas menyeluruh atau sebagian selama tidur. Gangguan ini dialami oleh sekitar 18 juta orang amerika. Kesulitan bernafas dikarenakan oleh kerusakan struktur, seperti langit-langit mulut yang terlalu tebal atau pembesaran tonsil atau adenoids. Dalam gangguan menyeluruh seseorang dapat secara tidak sadar berhenti bernafas selama 15 sampai 90 detik sebanyak 500 kali sepanjang malam. Ketika berhenti bernafas terjadi, seseorang dapat mendadak duduk, tersedak, mengambil nafas dalam beberapa kali dan tertidur kembali tanpa terbangun atau menyadari bahwa pernafasannya telah terganggu.
            Meskipun ada refleks biologis yang memaksa pengambilan nafas setelah interupsi bernafas yang singkat ini, gangguan akibat apnea yang sering muncul saat tidur normal dapat membuat orang merasa mengantuk pada keesokan harinya. Gangguan ini lebih sering terjadi pada pria paruh baya. Hal ini juga banyak terjadi pada orang yang mengalami obesitas, disebabkan karena menyempitkan jalam udara dibagian atas akibat pembesaran pada jaringan halus. Tidur apnea juga merupakan masalah kesehatan karena hubungannya dengan peningkatanrisiko hipertensi, factor resiko utama untuk serangan jantung dan stroke.
e.       Gangguan Irama Tidur Sirkadia.
Sebagian fungsi tubuh mengikuti sebuah siklus atas irama internal (irama sirkadia) yang berlangsung selama 24 jam. Pada gangguan irama tidur sirkadia, irama tidur menjadi sangat terganggu karena ketidakcocokan antara tuntutan jadwal tidur yang ditetapkan oleh seseorang dengan siklus internaltidur-bangun orang tersebut. Gangguan pada pola tidur normal yag disebabkan oleh ketidakcocokan ini dapat menyebabkan insomnia atau hipersomnia. Seperti gangguan tidur lainnya, gangguan ini juga terjadi terus menerus dan cukup parah sehingga menimbulkan tingkat distress yang signifikan atau hendaya terhadap kemampuan seseorang untuk berfungsi dalam peran social, pekerjaan dan peran lainnya. Penanganannya dapat melibatkan program penyesuaian secara bertahap pada jadwal tidur untuk menjadikan system sirkasia seseorang sesuai denga peerubahan jadwal tidur bangun.
Parasomnia adalah perilaku abnormal atau peristiwa fisiologis yang muncul pada saat tidur atau pada ambang batas antar tidur dan terjaga. Terdapat tiga jenis parasomnia, antara lain     :
1.      Gangguan mimpi buruk.
Gangguan mimpi buruk (nightmare disorder) merupakan proses terjaga dari tidur secara berilang karena mimpi buruk. Mimpi buruk sering dikaitkan dengan pengalaman traumatis dan umumnya lebih sering terjadi ketika indivisu berad dalam kondisi stress. Mimpi buruk biasanya muncul saat tidur REM. Periode REM cenderung lebih panjang dan mimpi yang muncul selama REM lebih intensif pada periode setengah terakhir dari tidur, yang muncul biasanya pada larut malam atau menjelang subuh. Meskipun mimpi buruk dapat berisi aktivitas motorik yang hebat, sepeti melarikan diri dari serangan tapi para pemimpi hanya menunjukkan aktivitas otot yang sedikit.


2.      Gangguan Teror dalam Tidur.
Gangguan ini biasanya dimulai dengan tangisan yang keras dan menyayat hati di malam hari. Hal biasanya trjadi pada anak-anak dengan kemungkinan terduduk, terlihat ketekutan dan menunjukan tanda-tanda dari proses terjaga yang ekstrem, keringat berlebihan dengan detak jantungdan pernafasan yang cepat. Anak dapat mulai berbicara secara tidak koheren atau bercerita dengan liar, tetapi tetap tertidur atau terbangun dan tidak mengenali orang tua yang ada di depannya kemudian tertidur kembali dan di pagi harinya ia tidak menyadari kejadian yang telah ia alami waktu malam. Terror dalam tidur cenderung muncul saat sepertiga awal dari tidur malam serta saat tidur lelap dan tidak REM.
Gangguan terror dalam tidur mellibatkan episode terror dalam tidur yyang berulang yang menghasilkan proses terjaga secara tiba-tiba dan di mulai dengan teriakanpanik. Jika proses terjaga muncul saat episode terror dalam tidur, orang biasanya akan terlaihat bingung dan mengalami disorientasi waktu untuk beberapa menit. Orang tersebut akan merasakan terror yang samar dan dapat menceritakan beberapa gambaran dari mimpinya, tetapi tidak mendetail seperti oang yang mengalami mimpi buruk. Penyebab terror dalam tidur ini tetap menjadi misteri sampai saat ini.
3.      Gangguan Berjalan Sambil Tidur (sleep walking disorder).
Gangguan baejalan sambil tidur melibatkan episode berulang di mana orang yang sedang tidur bangkit dari tempat tidur dan berjalan disekitar rumah dengan mata terpejam. Gangguan ini cenderung terjadi saat tahap tidur yang lebih dalam di mana mimpi tidak hadir, episode berjalan sambil idur tidak terlihat melibatkan kehadiran mimpi. Kemunculan yang berulang dari episode berjalan sambil tidur cukuplah parah sehingga menyebabkan stress pribadi yang signifikan atau ketidakmampua untuk berfungsi dengan baik. Gangguan in banyak terjadi pad anak-anak.  Orang dewasa pun juga bias mangalami gangguan ini dengan tingkatan kronis di mana selama itu frekuensi dan intensitas episode tersebut meningkat dan menghilang dari waktu ke waktu. Penyebab terror dalam tidur tetap menjadi misteri hingga kini.



BAB 3. Penanganan Gangguan tidur.
       Gangguan tidur ini dapat diatasi dengan dua macam pendekatan yang walaupun hanya mengurangi sedikit dai gangguan tersebut, antara lain :
1.      Pendekatan Biologis.
Penanganan ini menggunkan hal yang berkaitan dengan biologis atau organ-organ yang terdapat dalam tubuh. Gangguan dapat dikurangi dengan memberikan obat antikecemasan yang sering digunakan untuk mengatasi insomnia yaitu benzodiazepine yang termasuk obat penenang minor. Selain benzodiazepine ada juga zolpidem yang sama efektifnya dengan benzodiazepine namun efek sampingnya lebih kecil dan kemungkinan memiliki efek putus zat yang lebih penting. Namun, semua obat-obatan ini dapat menghasilkan ketergantungan kimiawi jika digunakan secara teratur dan sepanjang waktu.
            Saat digunakan untuk mengatasi insomnia dalam jangka pendek, obat tersebut akan efektif dalam mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk tertidur meningkatkan wakut tidur total dan mmengurangi terjaga pada malam hari. Akan tetapi obat antikecemasan ini juga punnay efek samping yaitu dapat menyebabkan hilangnya tidur REM dan menganggu tidur restorative. Selain itu jika pengguanaan obat dihentikan bias membuat insomnia semakin parah.
            Dari segi psikologis juga akan membuat penderita insomnia menjadi bergantung dengan obat kareana mereka mengasumsikan bahwa tanpa tidur mereka tidak mempu tidur serta menyebabkan itingkat kecemesan yang semakin tinggi. Obat tersebuta hanya boleh digunakan pada kasus-kasus parah karena dapat menyebabkan resiko ketergantungan fisik dan psikologis. Tujuannya pun hanya untuk memutuskan siklus.
2.      Pendekatan Psikologis.
Pendekatan ini menggunakan teknik kognitif-behavioral yang telah menghasilkan
manfaat yang penting dalam penanganan insomnia kronis. Manfaatnya dari teknik ini untuk insomnia kronis antara lain, mengurangi waktu untuk dapat tertidur dan jumlah terjaga pada malam hari serta meningkatkan kualitas tidur. Teknik kognitif-behavioral menekankan pada jangka waktu pendek dan berfokus pada penurunan langsung kondisi fisiologis yang timbul, memodifikasi kebiasaan tidur yang maladaptive dan mengubah pemikiran yang disfungsional. Teknik ini menggunakan kombinasi dari beberapa teknik, yaitu,
a.       control stimulus dengan menghubungkan stimulus ketika tidur, seperti orang berbaring ditempat tidur dihubungkan dengan keinginan untuk  tidur, sehingga hal ini dapat meningkatkan raskantuk. Akan tetapi jika tempat tidur digunakan untuk makan, mambaca, menonton televisi, tempat tidur akan kehilangan asosiasi dengan ras mengantuk. Teknik ini bertujuan untuk memperkuat hubungan antara tempat tidur dan tidur sebisa mungkin membatasi aktivitas atas tempat tidur agar dapat tertidur.
b.      Pemantapan siklus tidur bangun yang teratur ini dapat dilakukan dengan mengadaptasikan waktu tidur dan bangun yang lebih konsisten.
c.       Relaksasi. Tekik ini dapat dilakukan dengan melakukan relaksasi progresifdari Jacobson, juga dapat dilatih sebelum waktu tidur untuk membantu menurunkan tingkat kesadaran.
d.      Rekonstrusi rasional. Teknik ini melibatkan rasional untukmengganti kekalahan dari pemikiran atau kepercayaan maladaptive yang bersifat self-defeating. Keyakinan bahwa kwgagalan untuk dapat tertidur nyenyak akan berkurangnya kemungkinan untuk dapat tertidur karena adanya peningkatan kecemasan dan dapat membuat orang gagal mencoba untuk tertidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar