BAB 1. Definisi
Gangguan Tidur.
Tidur merupakan fungsi biologis yang dalam berbagai
hal tetap misterius. Tidur memiliki sifat restorative dan sebagian besar dari
kita membutuhkan 7 jam atau lebih untuk tidur di malam hari agar aktivitas di
siang hari berjalan dengan baik. Akan tetapi, tidak semua orang mempunyai waktu
yang cukup untuk tidur dikarenakan oleh berbagai hal yang antara lain karena
factor psikologis, biologis ataupun karena efek pengobatan. Jika keadaan ini
terjadi secara terus menerus maka akan menimbulkan berbagai macam gangguan
tidur. Gangguan tidur adalah masalah yang berhubungan dengan tidur yang
berulang kali dan terus ada yang menyebabkan distress atau hendaya fungsi
social, pekerjaan dan berperan lain untuk berfungsi dengan baik.BAB 2. Jenis
Gangguan Tidur.
Ada
berbagai macam gangguan tidur yang diakibatkan Karen factor, biologis,
psikologis dan efek dari pengobatan. Macam-macam dari gangguan tidur tersebut
antara lain :
1.
Dissomnia
2.
Parasomnia.
Dissomnia adalah gangguan tidur yang memiliki karakteristik
terganngunya jumlah, kualitas atau waktu dari tidur. Ada lima macam Dissomnia,
yaitu :
a.
Insomnia
Jadi,insomnia
adaklah kesulitan berulang untuk tidur atau untuk tetep tidur. Akan tetapi jika
insomnia terjadi saat stres, itu tidak termasuk dalam kategori abnormal.
Insomnia pun dibagi menjadi dua jenis, antara lain :
1.a Insomnia kronis.
Insomnia kronis yang bertahan selama
satu bulan atau lebih merupakan tanda dari masalah fisik atau gangguan
psikologis seperti depresi. Jika problem yang ada di balik insomnia ditangani
dengan baik, ada kemungkinan untuk memperbaiki pola tidu menjadi normal
kembali.
2.a Insomnia primer.
Insomnia primer yang tidak disebabkan oleh gangguan psikologis atau
fisik lainnya, atau pun oleh efek obat atau pengobatan, dikelompokkan dalam
gangguan tidur yang disebut insomnia primer. Orang-orang dengan insomnia primer
memiliki gangguan
yang terus menerus untuk tidur , tetap
tidur, atau mengelami tidur yang restorative. Remaja yang mengalami gangguan
ini biasanya mengeluh membutuhkan waktu yang lama untuk tertidur sedangkan orang tua yang mengalami hal
ini labih banyak mengeluh sering terbangun pada malam hari dan ada jaga yang
bangun terlalu awal di pagi hari. Factor psikologis memainkan peran penting dalam insomnia primer. Mereka yang mengalami
insomnia primer cenderung memebawa kecemasan dan kekhawatiran ke tempat tidur,
yang akan meningkatkan kesadaran tubuh meraka sampai pada tahap yang mencegah
tidur secara alami.
b.
Hipersomnia.
Hipersomnia
berasal dari kata yunani hyper ‘lebih’. Jadi, hipersomnia adalah rasa kantuk
yang berlebihan pada siang hariyang berlangsung selama satu bulan atau lebih.
Rasa kantuk yang berlebihan sering kali disebut dengan mabuk tidur. Mabuk tidur
ini becirirkan sulit bangun setelah periode tidur yang panjang (8-12 jam). Orag
yang mempunyai hipersomnia primer memiliki rasa kantuk yang lebih parah dan
bertahan lebih lama yang biasanya mengakibatkan kesulitan untuk melekukan
fungsi sehari-hari dengan baik.
c.
Narkolepsi.
Narkolepsi
berasal dari bahasa Yunani narke ‘tidak sadar’, lepsi ‘serangan’. Sehingga
pengertian dari narkolepsi adalah gangguan tidur yang memiliki ciri episode
tidur yang tidak dapat dielekan dan terjadi secara tiba-tiba. Orang dengan
gangguan ini dapat secara tiba-tiba tidur untuk jangka waktu rata-rata 15 manit
tanpa adanya tanda-tanda ingin tidur. Diagnosis diberikan ketika serangan tidur
muncul setiap hari selama periode tiga bulan atau lebih dan dikombinasika
dengan salah satu dari dua dari kondisi berikut :
1.c
Cataplexy.
Cataplexy
(kehilangan control otot secara mendadak). Cataplexy biasanya diakibatkan oleh
reaksi emosional yang kuat, seperti bahagia atau marah. Hal ini dapat berkisar
dari rasa lemah yang tak seberapa dikaki sampai benar-benar kehilangan control
otot yang dapat mengakibatkan orang tersebut jatuh secara tiba-tiba.
2.c Gangguan tidur REM (Rapid Eye Movement)
atau REM sleep.
Gangguan ini terjadi dalam tahap
transisi antara sadar dan tidur. Tidur REM yangberarti gerakan mata yang cepat
adalah tahap tidur yang diasosiasikan dengan bermimpi. Dinamakan bergitu karena
mata orang yang sedang tidur cenderung untuk bergerak secara cepat dibawah
kelopak mata yang tertutup.
Serangan narkoleptik dihubungkan
dengan transisi yang cepat ke idur REM dari kondisi terjaga. Dalam tidur
normal, REM biasanya mengikuto beberapa tahap dari tidur nonREM. Orang dengan
serangan narkoleepsi juga dapat mengalami sleep paralysis(kelumpuhan tidur),
tahap sesaat yang mengikuti kondisi terjaga dimana seseorang merasa tidak mampu
untuk bergerak atau berbicara. Penderita juga melaporkan halusinasi yang
menekutkan sesaat sebelum tidur dan cenderung melibatkan sensasi visual,
auditori, taktil dan kinestetik (gerakan tubuh) yang disebut dengan ‘hypnagogic
hallucinations’. Penyebab dari gangguan ini belum diketahui secara pasti,
tetapi diduga dikarenakan hilangnya sel otak dalam hipotalamus yang
menghasilkan suatu zat kimia pengatur tidur.
d.
Gangguan
Tidur yang Terkait Dengan Pernafasan (breathing-related sleep disorder).
Orang yang mengalami
gangguan tidur yang terkait dengan pernafasan
mengalami
gangguan untuk tidur secara berulang yang disebabkan oleh masalah pernafasan.
Gangguan tidur yang berkala ini mengakibatkan insomnia atau rasa kantuk yang
berlebihan diwaktu siang. Tipe yang paling umum terkait gangguan ini adalah
obstructive sleep apnea (berasal dari bahasa Yunani ‘a’ tidak dan ‘pneuma’
nafas) yang melibatkan episode berulang dari gangguan nafas menyeluruh atau
sebagian selama tidur. Gangguan ini dialami oleh sekitar 18 juta orang amerika.
Kesulitan bernafas dikarenakan oleh kerusakan struktur, seperti langit-langit
mulut yang terlalu tebal atau pembesaran tonsil atau adenoids. Dalam gangguan
menyeluruh seseorang dapat secara tidak sadar berhenti bernafas selama 15
sampai 90 detik sebanyak 500 kali sepanjang malam. Ketika berhenti bernafas
terjadi, seseorang dapat mendadak duduk, tersedak, mengambil nafas dalam
beberapa kali dan tertidur kembali tanpa terbangun atau menyadari bahwa
pernafasannya telah terganggu.
Meskipun ada refleks biologis yang
memaksa pengambilan nafas setelah interupsi bernafas yang singkat ini, gangguan
akibat apnea yang sering muncul saat tidur normal dapat membuat orang merasa
mengantuk pada keesokan harinya. Gangguan ini lebih sering terjadi pada pria
paruh baya. Hal ini juga banyak terjadi pada orang yang mengalami obesitas,
disebabkan karena menyempitkan jalam udara dibagian atas akibat pembesaran pada
jaringan halus. Tidur apnea juga merupakan masalah kesehatan karena hubungannya
dengan peningkatanrisiko hipertensi, factor resiko utama untuk serangan jantung
dan stroke.
e.
Gangguan
Irama Tidur Sirkadia.
Sebagian fungsi tubuh mengikuti sebuah siklus atas
irama internal (irama sirkadia) yang berlangsung selama 24 jam. Pada gangguan
irama tidur sirkadia, irama tidur menjadi sangat terganggu karena
ketidakcocokan antara tuntutan jadwal tidur yang ditetapkan oleh seseorang
dengan siklus internaltidur-bangun orang tersebut. Gangguan pada pola tidur
normal yag disebabkan oleh ketidakcocokan ini dapat menyebabkan insomnia atau
hipersomnia. Seperti gangguan tidur lainnya, gangguan ini juga terjadi terus
menerus dan cukup parah sehingga menimbulkan tingkat distress yang signifikan
atau hendaya terhadap kemampuan seseorang untuk berfungsi dalam peran social,
pekerjaan dan peran lainnya. Penanganannya dapat melibatkan program penyesuaian
secara bertahap pada jadwal tidur untuk menjadikan system sirkasia seseorang
sesuai denga peerubahan jadwal tidur bangun.
Parasomnia adalah perilaku abnormal atau peristiwa
fisiologis yang muncul pada saat tidur atau pada ambang batas antar tidur dan
terjaga. Terdapat tiga jenis parasomnia, antara lain :
1.
Gangguan
mimpi buruk.
Gangguan
mimpi buruk (nightmare disorder) merupakan proses terjaga dari tidur secara
berilang karena mimpi buruk. Mimpi buruk sering dikaitkan dengan pengalaman
traumatis dan umumnya lebih sering terjadi ketika indivisu berad dalam kondisi
stress. Mimpi buruk biasanya muncul saat tidur REM. Periode REM cenderung lebih
panjang dan mimpi yang muncul selama REM lebih intensif pada periode setengah
terakhir dari tidur, yang muncul biasanya pada larut malam atau menjelang
subuh. Meskipun mimpi buruk dapat berisi aktivitas motorik yang hebat, sepeti
melarikan diri dari serangan tapi para pemimpi hanya menunjukkan aktivitas otot
yang sedikit.
2.
Gangguan
Teror dalam Tidur.
Gangguan
ini biasanya dimulai dengan tangisan yang keras dan menyayat hati di malam
hari. Hal biasanya trjadi pada anak-anak dengan kemungkinan terduduk, terlihat
ketekutan dan menunjukan tanda-tanda dari proses terjaga yang ekstrem, keringat
berlebihan dengan detak jantungdan pernafasan yang cepat. Anak dapat mulai
berbicara secara tidak koheren atau bercerita dengan liar, tetapi tetap
tertidur atau terbangun dan tidak mengenali orang tua yang ada di depannya
kemudian tertidur kembali dan di pagi harinya ia tidak menyadari kejadian yang
telah ia alami waktu malam. Terror dalam tidur cenderung muncul saat sepertiga
awal dari tidur malam serta saat tidur lelap dan tidak REM.
Gangguan
terror dalam tidur mellibatkan episode terror dalam tidur yyang berulang yang
menghasilkan proses terjaga secara tiba-tiba dan di mulai dengan teriakanpanik.
Jika proses terjaga muncul saat episode terror dalam tidur, orang biasanya akan
terlaihat bingung dan mengalami disorientasi waktu untuk beberapa menit. Orang
tersebut akan merasakan terror yang samar dan dapat menceritakan beberapa
gambaran dari mimpinya, tetapi tidak mendetail seperti oang yang mengalami
mimpi buruk. Penyebab terror dalam tidur ini tetap menjadi misteri sampai saat
ini.
3.
Gangguan
Berjalan Sambil Tidur (sleep walking disorder).
Gangguan
baejalan sambil tidur melibatkan episode berulang di mana orang yang sedang
tidur bangkit dari tempat tidur dan berjalan disekitar rumah dengan mata
terpejam. Gangguan ini cenderung terjadi saat tahap tidur yang lebih dalam di
mana mimpi tidak hadir, episode berjalan sambil idur tidak terlihat melibatkan
kehadiran mimpi. Kemunculan yang berulang dari episode berjalan sambil tidur
cukuplah parah sehingga menyebabkan stress pribadi yang signifikan atau
ketidakmampua untuk berfungsi dengan baik. Gangguan in banyak terjadi pad anak-anak. Orang dewasa pun juga bias mangalami gangguan
ini dengan tingkatan kronis di mana selama itu frekuensi dan intensitas episode
tersebut meningkat dan menghilang dari waktu ke waktu. Penyebab terror dalam
tidur tetap menjadi misteri hingga kini.
BAB 3. Penanganan Gangguan tidur.
Gangguan
tidur ini dapat diatasi dengan dua macam pendekatan yang walaupun hanya
mengurangi sedikit dai gangguan tersebut, antara lain :
1.
Pendekatan
Biologis.
Penanganan ini menggunkan hal yang berkaitan dengan
biologis atau organ-organ yang terdapat dalam tubuh. Gangguan dapat dikurangi
dengan memberikan obat antikecemasan yang sering digunakan untuk mengatasi
insomnia yaitu benzodiazepine yang termasuk obat penenang minor. Selain
benzodiazepine ada juga zolpidem yang sama efektifnya dengan benzodiazepine
namun efek sampingnya lebih kecil dan kemungkinan memiliki efek putus zat yang
lebih penting. Namun, semua obat-obatan ini dapat menghasilkan ketergantungan
kimiawi jika digunakan secara teratur dan sepanjang waktu.
Saat digunakan untuk mengatasi
insomnia dalam jangka pendek, obat tersebut akan efektif dalam mengurangi waktu
yang dibutuhkan untuk tertidur meningkatkan wakut tidur total dan mmengurangi
terjaga pada malam hari. Akan tetapi obat antikecemasan ini juga punnay efek
samping yaitu dapat menyebabkan hilangnya tidur REM dan menganggu tidur
restorative. Selain itu jika pengguanaan obat dihentikan bias membuat insomnia
semakin parah.
Dari segi psikologis juga akan
membuat penderita insomnia menjadi bergantung dengan obat kareana mereka
mengasumsikan bahwa tanpa tidur mereka tidak mempu tidur serta menyebabkan
itingkat kecemesan yang semakin tinggi. Obat tersebuta hanya boleh digunakan
pada kasus-kasus parah karena dapat menyebabkan resiko ketergantungan fisik dan
psikologis. Tujuannya pun hanya untuk memutuskan siklus.
2.
Pendekatan
Psikologis.
Pendekatan ini menggunakan
teknik kognitif-behavioral yang telah menghasilkan
manfaat
yang penting dalam penanganan insomnia kronis. Manfaatnya dari teknik ini untuk
insomnia kronis antara lain, mengurangi waktu untuk dapat tertidur dan jumlah
terjaga pada malam hari serta meningkatkan kualitas tidur. Teknik
kognitif-behavioral menekankan pada jangka waktu pendek dan berfokus pada
penurunan langsung kondisi fisiologis yang timbul, memodifikasi kebiasaan tidur
yang maladaptive dan mengubah pemikiran yang disfungsional. Teknik ini
menggunakan kombinasi dari beberapa teknik, yaitu,
a.
control
stimulus dengan menghubungkan stimulus ketika tidur, seperti orang berbaring
ditempat tidur dihubungkan dengan keinginan untuk tidur, sehingga hal ini dapat meningkatkan
raskantuk. Akan tetapi jika tempat tidur digunakan untuk makan, mambaca,
menonton televisi, tempat tidur akan kehilangan asosiasi dengan ras mengantuk.
Teknik ini bertujuan untuk memperkuat hubungan antara tempat tidur dan tidur
sebisa mungkin membatasi aktivitas atas tempat tidur agar dapat tertidur.
b.
Pemantapan
siklus tidur bangun yang teratur ini dapat dilakukan dengan mengadaptasikan
waktu tidur dan bangun yang lebih konsisten.
c.
Relaksasi.
Tekik ini dapat dilakukan dengan melakukan relaksasi progresifdari Jacobson,
juga dapat dilatih sebelum waktu tidur untuk membantu menurunkan tingkat
kesadaran.
d.
Rekonstrusi
rasional. Teknik ini melibatkan rasional untukmengganti kekalahan dari
pemikiran atau kepercayaan maladaptive yang bersifat self-defeating. Keyakinan
bahwa kwgagalan untuk dapat tertidur nyenyak akan berkurangnya kemungkinan
untuk dapat tertidur karena adanya peningkatan kecemasan dan dapat membuat
orang gagal mencoba untuk tertidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar